Thursday, May 31, 2007

Walaupun Peluang Calon Independen Terbuka FNPPNKRI Tetap Dukung Pasangan Fauzi-Prijanto

Anggota&Simpatisan FNPPNKRI Agar Tetap Berjuang Dukung Fauzi-Prijanto

Mercusuarpost: Sekretaris Front Nasional Pembela Penyelamat Negara Kesatuan Republik Indonesia (FNPPNKRI) DKI Jakarta Dewa Sukma Kelana, SH, S.Ip meminta Anggota dan simpatisan FNPPNKRI Jakarta untuk tetap berjuang memenangkan pasangan Cagub dan Cawagub Jakarta Fauzi-Prijanto karena itu dibutuhkan dukungan dari kader dan simpatisan FNPPNKRI Jakarta untuk memenangkan Fauzi-Prijanto . Menurut Dewa, meskipun calon-calon Gubernur Independen akanbermunculan nantinya kader dan simpatisan FNPPNKRI tetap memilih pasangan Fauzi-Prijanto karena memiliki visi dan pemikiran ideal untuk membawa perubahan bagi Jakarta ke depan yang lebih baik. menurut Dewa para Cagub Independent yang sudah bermunculan dan tidak didukung oleh Parpol menurutnya belum representatif masyarakat Jakarta jauh panggang dari api, karena itu dibutuhkan munculnya pasangan calon yang tentu saja memiliki integritas dan loyalitas terhadap kemajuan bangsa dan cita-cita luhur yang benar-benar menginginkan perubahan keseluruhannya itu ada pada diri calon yang juga didukung dari FNPPNKRI mereka sudah teruji bukan hanya janji. hanya saat ini tergantung apakah Makhamah Konstitusi benar-benar mengabulkan keinginan calon independent. namun menurut dewa Undang-undang tentang Pemilu yang sudah ada tidak perlu dirubah dan itusudah cukup baik dengan demikian tidak dibutuhkan lagi munculnya calon dari Independen cukup saja dari Parpol karenaParpol sudah merupakan perwakilan ril dari masyarakat.
Demikian disampaikan Dewa usai ceramah pada acara peringatan hari kelahiran Pancasila diselenggarakan DPW FNPPNKRI Jakarta di Kalibata, Jakarta Selatan, Jum'at(1/6). Dukungan terhadap FAuzi-Prijanto, juga disampaikan oleh ribuan Anggota dan simpatisan dan tokoh FNPPNKRI se-DKI Jakarta antara lain Tb.Munir Sasmita, Hadi Jaya, H. Fauna Sukma Prayoga, Abdul Gani, H.Acmad Syahroni, Sastrajumena Raksanagara, Jonathan Purnawinata. "Para tokoh FNPPNKRI yang juga pendiri memiliki LSM dan Perusahaan dengan karyawan yang cukup banyak di Jakarta, khususnya yang berkumpul pada hari ini bertekad untuk mengantarkan Pasangan Fauzi-Prijanto menjadi Gubernur DKI Jakarta," tegas Dewa.
Sekretaris FNPPNKRI Jakarta itu mengajak para Anggota dan simpatisan FNPPNKRI berkampanye dengan cara santun dan mengedepankan akhlaqul karimah Kebangsaan tanpa memandang suku maupun Ras. "Saya tidak ingin ada Anggota dan simpatisan yang menggunakan cara-cara yang tidak simpatik maupun black campaign," himbau Dewa.Sementara itu Pengusaha Jakarta , Hadi Jaya mengaku siap merapatkan barisan Para Pengusaha dan Karyawan saya di Jakarta untuk mengampanyekan Pilkada damai. Menurut Dewa, dukungan terhadap FAuzi-Prijanto didasarkan pada keinginan untuk menjadikan Jakarta lebih baik. Ia juga menghimbau para tokoh agama Ormas dan LSM untuk memberikan pendidikan politik secara benar kepada ummat. Jangan menutup mata dengan kondisi Jakarta saat ini yang memprihatinkan yang disebabkan kurangnya dukungan dalam rangka membangun Jakarta, tegasnya. Sementara itu Wkl Sekretaris DPW FNPPNKRI Jakarta Djunaedi menyatakan bahwa keterlibatan FNPPNKRI dalam perubahan Jakarta di masa lalu dan di masa mendatang sangat besar artinya. Karena itu ia menyatakan sangat apresiatif terhadap para tokoh dan pendiri FNPPNKRI. "Sebagai Ormas pemersatu yang tidak membedakan suku, Ras, agama, parpol, dll. FNPPNKRI yang merupakan wadah Kasatuan Persatuan Nasional Bangsa,Gerakan Moral Nasional Bangsa, Pemberantasan KKN, Narkoba, dan Terorisme (Solusi Multi Dimensi) akan terus berada di tengah-tengah masyarakat bersama Ormas dan LSM serta tokoh masyarakat lainnya," tegas pria yang akrab disapa Bang Dewa itu.

Koalisi Yakin Raih 75% Suara

DEKLARASI, Fauzi Bowo dan Prijanto (tengah), kemarin resmi dideklarasikan sebagai pasangan cagub-cawagub pada Pilkada Jakarta. Deklarasi yang dilakukan di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, ini dihadiri ratusan warga dan parpol pendukung pasangan tersebut.
JAKARTA PUSAT (Mercusuarpost) – Partai politik (parpol) pendukung pasangan Fauzi Bowo-Prijanto optimistis bakal meraih suara 75% pada pilkada yang akan digelar 8 Agustus mendatang.
Pasalnya, puluhan parpol tersebut mempunyai basis massa yang riil.”Kami yakin pasangan Fauzi Bowo-Prijanto akan meraih 75% suara pada pilkada nanti,” ujar Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Agung Imam Sumanto seusai deklarasi pasangan Fauzi Bowo- Prijanto di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat,kemarin.
Agung mengaku, target perolehan suara tersebut bukan tanpa perhitungan.Pemilu 2004 lalu, misalnya,PDIP mampu meraup suara 14,26% atau 700.000 suara di DKI Jakarta.Artinya, jika perolehan suara tersebut digabung dengan parpol lain,otomatis jumlahnya lebih dari tiga juta suara. ”Hitung-hitungan itulah yang membuat kami optimistis dari 5 juta pemilih, 75% atau 3 juta suara akan kita raup pada pilkada mendatang,”jelasnya.
Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Ferrial Sofyan menyatakan hal yang sama.Terlebih, parpol yang tergabung dalam Koalisi Jakarta tetap solid mendukung kedua pasangan tersebut.”Saya yakin,parpol benar- benar mantap mendukung Fauzi-Prijanto,”tukas dia. Ketua DPW PPP DKI Jakarta Chudlary Syafii Hazami mengaku akan terus meningkatkan koordinasi dengan parpol pendukung lainnya untuk kemenangan Fauzi-Prijanto.
”Fauzi Bowo-Prijanto dengan parpol selalu kompak dan selalu melakukan koordinasi. Karena kalau tidak begitu, saya yakin semuanya akan berantakan,”singkatnya. Rencananya, pasangan tersebut mendaftarkan sebagai peserta pilkada ke KPUD pada 5 atau 6 Juni mendatang.Seusai deklarasi, Fauzi meminta dukungan warga Jakarta untuk memilih dirinya.
Dia pun berharap agar bersama- sama menyukseskan pilkada secara jujur, adil, dan damai. Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, juga berjanji akan meneruskan pembangunan Jakarta dan menjamin keberlangsungan Ibu Kota ini.”Saya menilai,masyarakat Jakarta sudah cerdas untuk memilih siapa pemimpinnya. Apalagi jika mereka mengenal slogan ‘serahkan Jakarta pada ahlinya’,”ujarFoke dihadapanribuan pendukungnya.
Sementara itu,Prijanto yakin memenangkan pilkada langsung yang baru pertama kali digelar ini.Dia berjanji akan terjun langsung ke masyarakat bersama parpol pendukung lainnya untuk menarik simpati.” Prioritas saya adalah masyarakat pinggiran Jakarta. Di sana,saya akan membuat jaringan yang kuat supaya mereka konsistenhanya memilihpasangan FauziBowo-Prijanto,”ungkapnya.
Seperti diketahui, Prijanto didukung parpol pendukung Foke menjadi cawagub dengan alasan untuk menghindari perpecahan. Padahal, sebelumnya, beberapa nama dijagokan sebagai pendamping Foke, seperti Abdul Wahab Mokodongan,Slamet Kirbiantoro, Djasri Marin dan Asril Tanjung.Namun,menjelang pembukaan pendaftaran cagub-cawagub, parpol pendukung Foke justru memutuskan Prijanto sebagai pendamping Foke.

Ribuan Umat Budha Menggelar Ritual Air Suci

Air dalam ritual ini diambil dari Umbul Jumprit, Temanggung yang disakralkan oleh Dewan Sangha, LKBI dan majelis Budha. Waisak adalah peringatan tiga peristiwa agung salah satunya adalah maha parinirvana Sang Budha Gautama.
Ribuan umat Budha menggelar ritual air berkah di Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (31/5). Ritual ini sebagai rangkaian awal perayaan Waisak pada Jumat nanti. Waisak adalah peringatan tiga peristiwa agung yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan maha parinirvana Sang Budha Gautama.
Air dalam ritual ini diambil dari Umbul Jumprit, Temanggung. Air sudah disakralkan oleh Dewan Sangha, Lembaga Keagamaan Budha Indonesia dan majelis-majelis Budha. Bagi umat Budha, air berkah bermakna kerendahan hati dan kesejukan, dua sifat yang mestinya dimiliki setiap umat manusia agar dapat hidup tentram di dunia.
Tradisi air berkah ini meneladani Siddharta Budha Gautama yang menganjurkan pengikutnya di Vesali untuk memercikkan air berkah sebagai cara menanggulangi wabah penyakit yang melanda kota tersebut. Setelah disucikan, air berkah akan dibawa ke Candi Borobudur sebagai salah satu elemen dalam puncak perayaan Waisak.

Penyelidikan Kasus Pasuruan Diserahkan ke Polisi

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyerahkan penyelidikan insiden penembakan warga Pasuruan, Jatim, kepada polisi. Wakil Ketua Komnas HAM, Zoemrotin K. Susilo, menemukan ada indikasi pelanggaran HAM dalam peristiwa ini.
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyerahkan penyelidikan insiden penembakan warga Desa Alas Telogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan, Jawa Timur, kepada pihak kepolisian. Meski begitu, Panglima tetap berjanji akan menindak tegas anak buahnya jika terbukti bersalah. Demikian dikatakan Djoko dalam jumpa pers, Kamis (31/5).
Djoko menambahkan, empat anggota Marinir yang menjadi korban bentrokan masih dirawat. Sedangkan 11 anggota regu yang berpatroli termasuk komandan regu dan komandan detasemen masih diperiksa Polisi Militer Angkatan Laut.
Bentrokan antara anggota TNI AL dan warga Pasuruan ini mengundang kecaman dari berbagai pihak. Anggota Komisi Pertahanan DPR, Joko Susilo, menilai, peluru tajam yang digunakan tentara memang tak bisa dihindari karena mereka memang dilatih untuk berperang. Namun demikian Joko tetap mengusulkan hukuman yang tegas terhadap TNI AL. "Sebaiknya Panglima TNI juga dicopot," kata Joko.
Anggota Komisi Hukum DPR, Nursyahbani Katjasungkana, juga meminta agar Panglima TNI dicopot. Dia juga tidak mempercayai keterangan Inspektur Jenderal TNI AL, Mayor Jenderal Marinir Safzen Noerdin, yang mengatakan prajuritnya menembak ke tanah.
Kecaman juga datang dari Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Zoemrotin K. Susilo. Dia menemukan ada indikasi pelanggaran HAM dalam peristiwa ini. Menurut Zoemrotin, semestinya yang bertugas mengamankan unjuk rasa warga adalah polisi bukan anggota TNI. "Pengendaliannya pun harus melalui prosedur standar tanpa mesti menembakkan peluru," kata Zoemrotin.
Sementara, Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, menyatakan, Presiden harus turun tangan untuk menyelesaikan kasus yang menewaskan empat warga Pasuruan ini. Zoemrotin dan Usman meminta kasus ini diselidiki oleh polisi meski tersangkanya adalah anggota TNI.

Australia Meminta Maaf ke Sutiyoso

Dubes Australia untuk Indonesia Bill Farmer meminta maaf atas insiden yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. PM John Howard menyatakan, insiden ini harus dijelaskan pemerintah Negara Bagian New South Wales.
Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer meminta maaf atas insiden yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Permintaan maaf itu disampaikan Bill Farmer dalam keterangan pers usai bertemu Bang Yos di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (31/5) pagi Sementara Sutiyoso menerima permintaan maaf Australia. Sebelumnya Bang Yos sempat kesal. Dia merekomendasikan hubungan sister city antara Jakarta dan Negara Bagian New South Wales sejak 1994 ditinjau ulang. Menurut dia, peristiwa yang dialaminya mencerminkan arogansi Australia terhadap Indonesia.
Selain Bang Yos, puluhan pemuda di Ibu Kota marah. Para pemuda yang tergabung dalam organisasi masyarakat ini berunjuk rasa depan Kantor Kedutaan Besar Australia menuntut pemerintah Negara Kanguru segera minta maaf. Demonstrasi berlangsung singkat karena pihak Kedubes Australia tak mau menemui pengunjuk rasa.
Di Sydney, Perdana Menteri John Howard menyatakan, insiden harus dijelaskan pemerintah Negara Bagian New South Wales. Namun dia mendukung penyelidikan kasus balibo yang menewaskan lima wartawan Australia di Timor Leste, 32 tahun silam. "Korban adalah warga Australia dan jaksa berhak menyelidiki,"

Prijanto Jadi Pendamping Fauzi Bowo

Teka-teka siapa pendamping calon gubernur (cagub) Fauzi Bowo, hari ini terjawab karena Mayjend Prijanto dipastikan menjadi calon wakil gubernur (cawagub) yang diusung partai pendukung Fauzi Bowo yang tergabung dalam Koalisi Bersama.
"Berdasarkan rapat semalam, Koalisi Bersama sepakat mengusung Mayjend Prijanto sebagai cawagub," kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pramono Anung di kantor DPD PDIP DKI Jakarta, Rabu (30/5).
Pramono mengatakan, Prijanto juga telah mendapat restu dari Mabes TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Djoko Santoso.
Adapun alasan dipilihnya Prijanto sebagai cawagub karena dia dapat mewakili seluruh kepentingan partai pendukung Fauzi Bowo. "Figur Prijanto mampu mempersatukan seluruh kepentingan parpol," katanya.
Dia optimistis bahwa duet Fauzi Bowo-Prijanto dapat meraih simpati warga ibu kota.
Pramono menambahkan, pasangan Fauzi Bowo-prijanto akan dideklarasikan secara resmi pada 1 Juni dan akan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi antara tanggal 6-7 Juni 2007.
"Deklarasi pasangan Fauzi Bowo-Prijanto saat hari lahirnya Pancasila 1 Juni diharapkan agar keduanya membawa semangat keberagaman yang merupakan ciri khas Jakarta yang terdiri dari berbagai etnis," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Prijanto membantah bahwa pencalonan dirinya adalah atas keinginan TNI. "Pencalonan saya karena keinginan Fauzi Bowo," jelasnya.
Pria kelahiran Ngawi, 26 Nei 1949 ini menuturkan, dirinya pernah bermitra dengan Fauzi Bowo yakni saya menjabat Kasdam Jaya tahun 2005 dan Danrem 051 Jakarta Timur tahun 1999.
Selain itu, di cabang olahraga Bowling, Prijanto terakhir menjabat sebagai Ketua Bowling DKI Jakarta. "Di Bowling, saya semakin mengenal Fauzi Bowo yang menjadi Ketua KONI DKI," tukasnya.

Sutiyoso Terima Permintaan Maaf Dubes Australia

Akhirnya Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengabulkan permintaan maaf Duta Besar (Dubes) Ausralia untuk Indonesia, Bill Palmer yang secara resmi datang ke Balai Kota, Kamis (31/5).
“Iya, saya memaafkannnya karena dia (Bill Palmer-red) mewakili rakyat Australia sebagai Dubes di Indonesia. Kita adalah bangsa yang berjiwa besar, kalau mereka sudah minta maaf maka jangan kita melakukan hal-hal yang akan merusak persahabatan ini. Hubungan kita perbaiki lagi dan mudah-mudahan ke depan tidak ada masalah lagi,” jelas Sutiyoso kepada wartawan, Kamis (31/5).
Eks Pangdam Jaya ini mengatakan, Bill Palmer akan mengusahakan pernyataan maaf secara resmi dari New South Wales pada hari ini dan akan memberikan surat tersebut kepada Gubernur Sutiyoso.
“Dan saya juga katakan pada beliau, dunia Internasional dan masyarakat Australia pada khususnya bahwa saya memang pernah bertugas di Timor Timur tiga kali. Tapi, saya dan pasukan yang saya pimpin pada tahun 1975 tidak pernah melewati Balibo, dan sudah dijelaskan pasukan siapa yang di Balibo saat itu,” jelasnya.
Sutiyoso juga menyampaikan ucapan berterima kasih kepada pemerintah pusat karena telah merespon positif kejadian ini, DPR RI, DPRD dan DPD DKI, serta masyarakat.
Mantan Wadan Kopassus ini menambahkan kejadian ini adalah sebuah kesalahan teknis sehingga jangan sampai setelah ada klarifikasi kedua belah pihak masih ada tuntutan yang tidak masuk akal.
“Mereka akan meminta maaf sesuai janjinya terutama New South Wales yang mengundang saya. Dan saya berjanji bila mereka benar-benar minta maaf maka saya juga akan melanjutkan sister city antara Jakarta dan New South Wales,” tegasnya.
“Saya dan Premier Morris Iemma memang sudah bertekad untuk menjembatani kerja sama sister city ini sebagai upaya untuk mencairkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut Dubes Australia, Bill Palmer berjanji untuk secepatnya mengurus permintaan maaf resmi dari New South Wales.
“Kita berharap kejadian ini bisa menjadi titik awal membaiknya hubungan antara Australia dan Indonesia,” katanya.
Berita Sebelumnya Sutiyoso Tuntut Pemerintah Australia Minta Maaf

Gubernur DKI Jakarta menuntut klarifikasi terkait tindakan pelecehan yang dilakukan dua polisi federal New South Wales dengan memasuki kamar hotel Shangri-La tempat dia menginap. Kedua polisi itu meminta Sutiyoso untuk hadir di Pengadilan sebagai saksi tewasnya wartawan Australia dalam kasus Balibo tahun 1975.
Sutiyoso juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah Australia atas tindakan kedua polisi tersebut. “Saya meminta Departemen Luar Negeri agar pemerintah Australia mengklarifikasi kejadian ini,” tegas Sutiyoso di Balai Kota, Rabu (30/5).
Bahkan eks Pangdam Jaya itu mengancam, tidak akan melanjutkan kerja sama kota kembar (sister city) Jakarta-Sidney jika tidak ada permintaan maaf. “Jika tidak ada permintaan maaf, kita akan kaji kembali kerja sama itu,” kata Sutiyoso.
“Saya sebagai gubernur selalu memberikan perlakuan yang sangat baik dan sangat melindungi Kedutaan Australia di Jakarta. Saya mengakomodir apa maunya demi keamanan mereka,” katanya lagi.
Seperti diketahui, kunjungan Sutiyoso ke Negara Bagian New South Wales itu atas undangan pemerintah setempat terkait kerja sama sister city.
Eks Pangdam Jaya itu menjelaskan, dia tiba di Sydney Minggu sekitar pukul 09.55 waktu setempat dan disambut oleh Mr Michael W Harkins MVO, pejabat protokol New South Wales dan Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo.
Pada pukul 13.00 Sutiyoso memenuhi undangan makan siang di kapal pesiar oleh staf premier NSW. Selanjutnya, pukul 14.00 dilanjutkan dengan kunjungan keliling didampingi dengan General Manager Darling Harbour Mr Bob Deacon dan dilanjutkan makan malam pukul 19.00.
Kemudian Senin (28/5), pukul 10.00 Sutiyoso mengunjungi Taronga Zoo diterima oleh Mark Williams. Jam 12.00 diterima oleh Gubernur New South Wales, Prof Marie Bashir.
Dilanjutkan pukul 15.00 meninjau pengolahan air limbah, pukul 17.00 diterima Premier NSW Mr Morris Lemma. Selanjutnya pukul 18.00 menghadiri Cocktail Reception dengan Menteri Pariwisata dan Perumahan New South Wales, Mr Matt Brown.
Kemudian pukul 10.00 Sutiyoso meninjau traffic manajement control (TMC) diterima Mr Phil Akers dan Mr Phil Gallagher. Pukul 12.30 menyampaikan sambutan pada acara business meeting yang diselenggarakan oleh Australian Indonesia Business Council. Selanjutnya jam 14.45 meninjau National Maritime Museum di Darling Harbour.
Sebetulnya pada pukul 18.00 telah dijadwalkan acara selanjutnya, namun karena masih ada waktu ia memutuskan kembali ke hotel. Namun, pukul 16.30 saat Sutiyoso sedang beristirahat tiba-tiba didatangi petugas Australian Federal Police (AFP) Sersan Thomas dan Detective Senior Constable Scrvens dari Coronial Investigation Team NSW Police. Dia menyampaikan surat pemanggilan untuk memberikan kesaksian tentang kasus Balibo, Timur Timor.
Kontan saja, kejadian ini membuat Sutiyoso marah besar. “Saya meminta kedua polisi itu keluar dari kamar hotel saya. Selanjutnya saya meminta protokoler dari New South Wales untuk menjelaskan kejadian ini tapi tidak bisa dihubungi,” jelasnya.
“Saya langsung menghubungi konsulat RI di Australia dan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda,” sambungnya. “Saya menjelaskan kejadian yang saya alami kepada Pak Hasan. Pak Hasan menyarankan agar saya tidak melanjutkan rangkaian acara yang tersisa dan segera pulang ke Jakarta,” terangnya.
Rencananya, hari ini Sutiyoso akan menghadap Hasan Wirajuda untuk menjelaskan secara detil kejadian yang dialami di Sydney. “Saya minta Deplu untuk mengklarifikasi masalah ini kepada pemerintah Australia,” ungkapnya.
Tidak Pernah Masuk Balibo
Sutiyoso yang saat itu berpangkat Kapten mengaku bersama pasukannya tidak pernah memasuki wilayah Balibo. “Saya tidak pernah memasuki wilayah itu. Pak Yunus Yosfiah pun (eks Menteri Penerangan-red) telah mengklarifikasi hal itu,” tuturnya. Tapi Sutiyoso menolak menyebut di mana posisi dia beserta pasukannya ketika itu.
Saat ditanya wartawan apakah kejadian itu ada unsur politis terkait pencalonannya sebagai calon presiden 2009, pria kelahiran Semarang 6 Desember 1944 itu tidak berkomentar. Namun, Ketua Umum PBSI ini menduga peristiwa yang dialami akibat rekayasa LSM yang anti Indonesia di Australia. “Saya menduga ini ulah LSM yang memberikan informasi keliru pada pemerintah setempat,” tukasnya.

Pilkada DKI

DPP PBSD Sudah Tidak Mengenal Demokrasi Lagi

menanggapi penonaktifan, Jonathan Purnawinata menyatakan keputusan itu tidak adil dan seolah dirinya menjadi penyebab kekisruhan di Partai Buruh Sosial Demokrat khusus dalam proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
"Saya akan melakukan pembelaan terhadap keputusan DPP Partai Buruh Sosial Demokrat. Ini tidak adil, dan inilah pertanda matinya demokrasi di Partai Buruh Sosial Demokrat," katanya.
Jonathan memperkirakan, dirinya dicopot karena menolak keputusan DPP yang mencalonkan Fauzi Bowo, sebagai calon gubernur. Padahal, Jonathan mengingatkan dirinya sudah dipilih dalam musyawarah cabang dan musyawarah daerah Partai Buruh Sosial Demokrat.
"Saya terpilih lewat Musda, tidak ada alasan yang jelas atas pencopotan ini," tuturnya.
Ia juga yakin pencopotannya berkaitan konsistensi saya dalam mendukung Agum Gumelar yang tergabung dalam Forum Lintas Partai yang saat itu ada 13 Partai Non Parlemen
Jonathan juga mendesak KPUD Provinsi DKI Jakarta menolak pencalonan pasangan cagub dan cawagub dari Partai Buruh Sosial Demokrat yang tergabung dalam Koalisi Jakarta Non Parlemen karena saat ini ada kepengurusan ganda dalam tubuh DPD.
"Saya yakin di balik semua ini ada kepentingan sesaat. Saya tidak mengatakan itu uang, tapi sangat pragmatis dengan mencalonkan Cagub lain padahal sejak semula DPP sudah mendukung gerakan saya dalam mendukung Agum," ujar dia. "hal ini sama saja bagai air susu dibalas air tuba", padahal menurut Jonathan, kurang apa pengorbanannya baik materi maupun waktu selama ini demi untuk membesarkan Partai buruh. Jonathan meyakini penonaktifan dirinya bukan ide dari Muchtar Pakpahan namun dari lingkarannya yang haus akan kepentingan sesaat hanya untuk materi pribadi bukan untuk loyalitas dan cita-cita perjuangan Partai Buruh yang sebenarnya. karena Muchtar Pakpahan tahu betul apa itu arti komitmen, demokrasi dan ketegasan bukan menjadi partai pecundang yang plin-plan dan meggusur orang yang tidak sejalan dengannya, justru sikap otoriter seperti itu seharusnya tidak ada di tubuh PBSD. mesti diingat PBSD adalah partai yang masih membutuhkan dukungan dari masyarakat luas dan mencari kader-kader pendongkrak untuk membangun kepercayaan terhadap partai buruh ini malah kader yang sudah terbukti memiliki loyalitas dan integritas terhadap partai malah disakiti bagaimana mau bertambah kader partai buruh kalau DPP menunjukan cara-cara yang tidak simpatik. menurut Jonathan ini merupakan pembelajaran bahwa memang politik itu memang kejam dan tidak selamanya partai yang dipimpin oleh reformis dan demokrat tidak otoriter malah lebih dari otoriter.

Pemerintah Australia Harus Minta Maaf

Seluruh elemen masyarakat ibu kota sudah semestinya melakukan perlawanan terhadap Australia akibat pelecehan yang dilakukan dua polisi koroner negara bagian New South Wales terhadap Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso saat berkunjung ke Sydney untuk memenuhi undangan Gubernur NSW, Morris Iemma dalam rangka kerja sama sister city.
"Sebagai tamu negara, seharusnya Sutiyoso diperlakukan dengan baik. Namun ternyata dia dilecehkan. Oleh karena itu, pemerintah Australia harus minta maaf, apalagi ada undang-undang kekebalan bagi pejabat negara asing," kata Ketua Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Tom Pasaribu kepada wartawan, Rabu (30/5).
Akibat perlakuan itu, pada Selasa (29/5) malam, Sutiyoso tidak meneruskan kunjungannya dan pulang ke Jakarta sebagai bentuk protes atas perlakuan tidak menyenangkan polisi koroner New South Wales.
“Perlakuan tidak menyenangkan yakni kedua polisi memasuki kamar hotel Shangrila tempat saya menginap tanpa izin untuk menyerahkan surat panggilan agar saya datang ke pengadilan New South Wales dalam sesi pencarian fakta pada Rabu (30/5),” jelas Sutiyoso kepada wartawan di Balai Kota.
Seperti diketahui, pemanggilan Sutiyoso itu terkait dengan kasus "Balibo lima" di Timor Timur pada tahun 1975 yang menewaskan lima orang dimana dua orang merupakan warga Australia.
Tom menambahkan, seharusnya Australia menghormati Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta yang selama ini telah bersikap akomodatif dengan mengizinkan pemasangan pembatas atau separator jalan di depan Kedubes Australia.
Selain itu, kata tom, saat terjadi pemboman di depan Kedubes Australia pada 9 September 2004 lalu, Sutiyoso langsung meninjau ke lokasi.
“Saat itu, Sutiyoso dengan segala upaya memberi dukungan terhadap kedutaan Australia termasuk melindungi para warga Australia di Jakarta. Dan sekarang justru Sutiyoso mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat berkunjung ke Australia," kata Tom.
Tpm meyakini bahwa Sutiyoso tidak ingin membesar-besarkan kejadian itu. Namun, kata dia, Sutiyoso sudah jadi figur dan punya basis massa.
“Wajar saja bila mereka marah. Dan untuk meredam itu, pemerintah Australia harus segera meminta maaf secara terbuka dan dimuat di media cetak serta elektronik," tegasnya.
Sementara itu menurut Konsul Bidang Ekonomi Konsulat Jenderal Indonesia di Sydney, Kusno Wibowo, kerja sama sister city Jakarta-Sydney itu pernah dijalin tahun 1994.
Namun belum terlaksana secara menyeluruh karena berbagai kendala, seperti pergantian pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta dan krisis ekonomi 1997.

Sutiyoso Tolak Ketemu Dubes Australia
Gubernur Sutiyoso menolak permintaan Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia, Bill Palmer, untuk bertemu.eks Pangdam Jaya itu. Dia mengaku belum mengetahui tujuan Palmer untuk bertemu dengannya pasca insiden di Negara Bagian New South Wales.
Saat ini Sutiyoso masih menunggu sikap resmi pemerintah Indonesia atas tindak pelecehan yang dilakukan dua polisi tersebut.
"Tadi, saya dapat telepon dari kedutaan Ausralia. Duta Besar Australia ingin ketemu saya, tapi saya jawab hari ini saya tidak punya waktu," tegas Sutiyoso, di Balai Kota, Rabu (3-/5).

Monday, May 28, 2007

Presiden : Negara Islam Tidaklah Lemah

Kuala Lumpur, Malaysia: Kita mampu meningkatkan kesejahteraan di dalam pasar global serta masih memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut, antara lain, tanggung jawab social, resiprositas dan kebersamaan, yang merupakan nilai-nilai Islam dan juga nilai-nilai universal. Hal tersebut dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam special keynote address pada pembukaan World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-3, Senin (28/5), di Putra World Trade Center (PWTC) Kuala Lumpur, Malaysia.Walaupun saat ini merupakan era dimana teknologi berkembang dengan pesat, perdagangan global semakin kuat serta semakin banyak kesempatan bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Kita, ujar SBY, juga diancam dengan kemiskinan yang banyak terjadi di negara-negara yang kurang berkembang, yang pada akhirnya akan mengancam usaha mereka dalam rangka mencapai Millenium Development Goals. Ancaman lain yang dihadapi oleh semuanya adalah global warming serta pencarian sumber daya alam lainnya yang tidak memperhatikan keadaan lingkungan sehingga pada akhirnya merusak lingkungan sekitar.“Kita sebagai umat tidak bisa melarikan diri dari semua masalah-masalah tersebut. Kita hanya memiliki satu bumi. Kita harus menghadapi semua permasalahan tersebut dengan bijak untuk membuat segalanya menjadi lebih baik,” jelas Presiden kepada para tamu undangan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah, lanjut Presiden SBY, menyadari bahwa kita tidaklah lemah. “Kita terlihat lemah karena kita percaya apabila ada orang lain yang mengatakan bahwa diri kita lemah,” katanya. SBY kembali mengingatkan bahwa populasi rakyat di negara-negara muslim yang menjadi anggota dari Islamic Development Bank adalah sekitar 30 persen dari seluruh penduduk bumi. Dan yang lebih penting lagi, negara-negara muslim di dunia mennyuplai kurang lebih 70 persen dari kebutuhan energi dan 40 persen kebutuhan bahan-bahan mentah dunia.Oleh karena itu, seluruh negara-negara Muslim harus proaktif dan mengetahui apa yang diinginkan. “Kita harus menyerap lebih banyak pengetahuan dan teknologi dari negara-negara yang lebih maju apabila mereka menginginkan energi dan komoditas kita. Kita harus melakukan barter yang adil dam menguntungkan kedua pihak,” tutur Presiden. Dilanjutkan lagi olehnya bahwa interaksi ekonomi tersebut diharapkan akan menghasilkan pertumbuhan teknologi yang pesat, peningkatan sumber daya manusia serta orientasi positif dari masyarakat.Agar bisa merasakan manfaat dari interaksi ekonomi tersebut, ujar SBY, kita harus bisa mengubah persepsi negara-negara lain terhadap negara muslim. “Kita harus merubah pikiran mereka terhadap kita. Dari sesuatu yang negatif, menjadi sesuatu yang positif dan penuh dengan antusias,” Presiden menambahkan. SBY juga menekankan bahwa madrasah memegang peranan penting dalam peningkatan pengetahuan dan sumber daya manusia di negara-negara Islam. “Kita juga harus mendorong dan memberikan kesempatan untuk membuka jaringan dan melakukan kerjasama seluas-luasnya kepada para pengusaha, pengusaha wanita, serta pengajar. Banyak hal yang dapat dilakukan lebih baik oleh sektor swasta jika dibandingkan dengan pemerintah,” ujar SBY. SBY mengingatkan lagi mengenai dua isu yang akan mendominasi diskusi multilateral, yakni soal ketahanan energi serta global warming. “Dalam masalah tersebut, ummat Islam diharapkan untuk mengambil peran yang besar ikut serta mencari solusi yang tepat, dan tidak menjadi bagian dari masalah tersebut,” kata Presiden. SBY yakin bahwa dengan dibimbing oleh nilai-nilai Islam, umat Islam bisa memberikan nilai kemanusiaan pada globalisasi serta memperkuat solidaritas antar sesama. (mit)

Wednesday, May 23, 2007

FNPPNKRI Maulidan Bersama Warga Panongan











Ketua FNPPNKRI Kab. Tanggerang Dewa Sukma Kelana, SH dan ratusan para istri anggota FNPPNKRI kompak selenggarakan Maulidan Nabi Muhammad saw bersama tokoh masyarakat dan warga Kec. Panongan.

Puluhan Warga Hadang Truk Tanah dan Kontainer

Balaraja(Mercusuarpost) - Puluhan warga dipimpin tokoh-tokoh Tegal Murni jalan yang membelah kawasan industri Adi Balaraja, Senin (21/5) sekitar pukul 12.00, menyetop puluhan kendaraan container dan truk pengangkut tanah merah yang melintas di wilayah mereka. Aksi tersebut dilakuakan karena keberatan jika jalannya dilalui truk bertonase tinggi yang tidak bertanggung jawab. "Kami tidak mau jalan yang sudah rusak berbentuk kubangan bertambah rusak hingga truk tersebut lewat ditempat kami," kata salah seorang warga desa Tegal Murni, Kecamatan Balaraja. Aksi yang dilakukan warga dengan cara menghalangi truk yang lewat dengan blokade batu-batuan dan potongan pohon besarserta ditanami tanaman yang masih segar dan didalam kubangan ditanami eceng gondok terlihat bukan seperti jalan lagi.
Yang mereka minta sopir truk memutar kendaraannya balik arah dan meminta industri yang ada disekitarnya untuk perduli akan keluhan warga ini bukan malah membiarkan. Perwkilan warga pada Mercusuarpost mengatakan, aksi warga tersebut dilakukan karena pihak pengusaha tidak memiliki izin melintas. "Kalau jalan itu rusak siapa yang akan perbaiki?"katanya.
penghadangan tersebut cepat terhenti setelah ada kesepakatan yang difasilitasi oleh kepolisian antara pemilik proyek pengangkutan tanah dan warga.

Dewa Hadiri Deklarasi FNPPNKRI Balaraja

Setelah melakukan deklarasi di berbagai kecamatan di Kab. Tanggerang FNPPNKRI kini melakukan deklarasi untuk kecamatan Balaraja Tanggerang, deklarasi yang dihadiri oleh Dewa Sukma Kelana, SH selaku ketua dan Djunaedi, SE selaku sekretaris FNPPNKRI Tanggerang Banten menjadi acara puncak dari rangkaian deklarasi Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI (FNPPNKRI) Wadah Kesatuan Persatuan Persatuan Nasional Bangsa Gerakan Moral Bangsa, Pemberantasan KKN, Narkoba, dan Terorisme (Solusi Multi Dimensi) untuk kabupaten Tanggerang.
Deklarasi DPAC FNPPNKRI Kec. Balaraja berlangsung mulai pukul 13.00 Wib. Acara semua direncanakan mulai pukul 11.00 Wib, acara mengambil tempat sekretariat DPAC FNPPNKRI Balaraja bersebelahan dengan kediaman ketua FNPPNKRI Balaraja terpilih Maulana.
Ratusan kader FNPPNKRI dari berbagai wilayah di Kabupaten Tanggerang memenuhi tempat deklarasi.
Mereka mengenakan atribut kaos berwarna merah putih hitam, dengan lambang FNPPNKRI. hadir dalam deklarasi tersebut tokoh pendiri FNPPNKRI yang juga sekjend DPP FNPPNKRI Sastrajumena Raksanagara, SH yang didampingi sekretaris FNPPNKRI Propinsi Banten Tb. Achmad Bayu Isrofil.
Masa pendukung FNPPNKRI berjumlah sekitar 700 orang mereka datang dari berbagai kecamatan dikabupaten Tanggerang, dengan menggunakan bermacam kendaraan. Dari truk, bus, motor sampai mobil bak terbuka.
Maulana selaku ketua FNPPNKRI kec balaraja terpilih mengatakan, sangat senang karena deklarasi ini berjalan dengan lancar apalagi dihadiri para tokoh FNPPNKRI. saya berjanji dengan kepemimpinan saya dan kepengurusan yang didominasi orang muda, Tanggerang khususnya Balaraja akan terbebaskan dari Narkoba dan FNPPNKRI akan berada dalam barisan terdepan dalam memerangi Narkoba..

Koalisi Ormas dan LSM Gabung Ke Soratet Dukung H. Ismet Iskandar

Seluruh warga kabupaten Tanggerangwajib menyukseskan pesta demokrasi di Tanggerang yang kita cintai ini. Sukses pilkada sangat ditentukan oleh partisipasi politik setiap warga Tanggerang baik perorangan, institusi politik maupun organisasi kemasyarakatan (ormas), di Tanggerang.Partsipasi politik warga Tanggerang dalam pilkada nanti adalah memilih calon Bupati Tanggerang yang baru. Untuk itulah, hari ini sebuah organisasi yang bernamakan "Koalisi Soratet" (Koalisi Solideritas Rakyat Tanggerang Untuk Ismet) terbentuk dari berbagai ormas, keagamaan dan sosial politik untuk mendukung H. Ismet Iskandar sebagai Bupati Tangerang periode 2008-2013."Koalisi Soratet ini terbentuk atas kesamaan pemikiran dan kepedulian untuk membangun Tanggerang yang lebih baik. Organisasi ini bukan representatif dari organisasi FNPPNKRI(Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI). Karena FNPPNKRI bukan organisasi politik," kata Ketua Koalisi Soratet, Dewa Sukma Kelana, SH, yang juga menjabat sebagai ketua FNPPNKRI Tanggerang, saat acara deklarasi Koalisi Soratet yang dihadiri lebih dari 200 orang, dengan tema, Menggalang Ukhuwah Membangun Daerah, di sekretariat DPAC FNPPNKRI, Kec.Jambe Tanggerang. FNPPNKRI, kata Dewa, tidak memberikan dukungan terhadap satu calon. Namun, setiap individu anggota FNPPNKRI punya hak untuk mendukung siapapun," katanya.Menurut Dewa, dukungan ini dalam bentuk tanda tangan berjumlah 1.125 orang dan foto copy kartu anggota yang menyatakan dukungan kepada Ismet Iskandar dari seluruh kabupaten Tanggerang. "Alasan mendukung Ismet Iskandar, karena ia berpengalaman di bidangnya, tokoh masyarakat dan agama, pejabat yang berhasil atas amanah rakyat selama memimpin, pribadi yang sederhana dan bersahaja," ujarnya.Program yang akan dilakukan Koalisi Soratet, lanjut Dewa, yakni, pelayanan ambulans gratis untuk masyarakat, membersihkan seluruh masjid di kab. Tanggerang, Pengajian Keliling, tukar pendapat sambil belajar (tupat sambel) untuk siswa sekolah, anak soleh kreatif (ansor) dan kuliah demo masak (kuldesak) untuk ibu – ibu.Tidak hanya itu, Dewa menambahkan, Koalisi Soratet juga mensosialisasikan anti golput kepada warga Tanggerang. Karena golput bukan solusi terbaik. "Dengan demikian Koalisi Soratet sudah menggandeng perkumpulan, Ormas dan LSM yang ada di Tanggerang, diantaranya : Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI (FNPPNKRI), Generasi Muda Pejuang Propinsi Banten (GMPPB), Kreasi Muda Tanggerang (KMT), Pemuda Kerakyatan, Lembaga Studi Pengkajian Informasi Buruh (LSPIB), Paguyuban Keluarga Warga(PAKUWA Banten) serta Ormas dan LSM lainnya yang ada di Kab. Tanggerang," pungkas Dewa.

Monday, May 21, 2007

Pemuda Ujung Tombak Bangsa

Hari kebangkitan nasional (HKN) pada dasarnya merupakan momentum untuk kita semua, khususnya pemuda untuk meneruskan perjuangan para pendahulu dalam konteks masa kini. Pemuda juga diharapkan bangkit dalam berbagai hal. Hal ini dikatakan, Sekretaris Generasi Muda Pejuang Propinsi Banten (GMPPB), Tb. Achmad Bayu Isrofil kepada Mercusuarpost, di Tigaraaksa,Tanggerang. "Ibu Kota Tanggerang ini merupakan pusat peradaban dunia. Kebangkitan nasional berawal dari Banten ini, yang merupakan awal penggerak elemen bangsa untuk melawan penjajah," katanya.Menurut pria asli Banten ini, saat ini penjajahan belum berakhir. Lihat saja, ekstradisi dengan negara tetangga Singapura. "Misalnya, kerjasama militer, pertahanan dan lain sebagainya. Apakah ada yang menjamin bahwa semua ini tidak akan mengobok - obok Ibu pertiwi?. Saya khawatir ada kepentingan negara lain dibalik semua ini. Jangan jadikan bangsa ini sebagai kuda troya (diperalat) bangsa asing. Dan, jangan mengulangi kebodohan yang sama," tegasnya.Terkait mengenai peran pemuda dalam lingkup lokal. Ia mengatakan, pemuda merupakan ujung tombak Bangsa untuk menjalin persatuan dan kesatuan. "Saya mengimbau kepada seluruh pemuda khususnya di Jakarta bahwa kita semua bersaudara," ujarnya.Ketika ditanya mengenai peran pemuda dalam pilkada nanti, lebih lanjut Bayu mengatakan, pemuda diharapkan dapat membantu mensosialisasikan pilkada dengan baik dan benar. "Kepada seluruh komponen masyarakat agar menggunakan nalar dan rasionya. Kabupaten Tanggerang ini multi etnis dan modernitas. Oleh karena itu, kita harus bersama - sama membangun Kabupaten ini ke arah yang lebih baik. Dan, mengimbau kepada para pemuda untuk lebih aktif dan dinamis dalam berbagai aspek," kata tokoh pemuda Banten ini."Pemuda jangan berdiam diri, yang nantinya akan mengakibatkan pembangunan kabupaten ini terabaikan. Maka, mulai saat ini baik pemerintah, pemuda dan seluruh lapisan masyarakat untuk berasatu membangun Kab. Tanggerang ini menjadi lebih baik," pungkasnya.

Sunday, May 20, 2007

Jejak Penerbit Pers di Banten 50 Tahun Silam

Dari "Utusan Banten" ke "Gelora Massa"

Tidak ada yang menyangka jika obrolan ngalor-ngidul
menjelang malam beberapa pemuda di sekitar perempatan
Pocis Serang satu saat ke depan akan melahirkan
penerbitan lokal dan merintis menjadi cikal-bakal PWI
cabang Banten untuk pertama kalinya. Beberapa pemuda
idealis ini selalu bertemu di perempatan Pocis untuk
membicarakan apa saja yang sedang "ngetrend" pada saat
itu, termasuk berdiskusi tentang film yang baru mereka
tonton di Gedung Sampoerna -sekarang Pelita Theatre.

Ketika idealisme mereka memuncak, pada tahun 1954
mereka sepakat untuk menerbitkan satu media yang
bersifat penerangan, pendidikan dan hiburan. Mereka
sepakat untuk mendirikan penerbit "Rangsang Debu '45"
serta menerbitkan "Utusan Banten" dengan format buku
kecil -sebesar buku tulis- yang terbit satu bulan
sekali dengan 30 halaman.

Utusan Banten beralamat redaksi di jalan Mayor Safe'i
(dahulu jalan Cilegon) nomor 34 di ruang muka keluarga
Bapak Mu'in yang sekarang digunakan sebagai pemangkas
rambut. Tercatat Sianfu dan Atja sebagai pendiri,
Chutbany sebagai pimpinan redaksi, AS Sumiarsa sebagai
redaksi dan sekretaris redaksi dipegang oleh Nani.

Peralatan sederhana seperti meja tulis, mesin tik dan
kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh Atja, sedangkan
dana penerbitan dan transportasi disumbang oleh Karso
Utomo Kohardjaja (Ko Eng Ke), seorang pedagang
tembakau yang juga ayah dari Sian Fu.

Agar mudah diingat, dalam penerbitan mereka selalu
menggunakan nama alias untuk artikel yang ditulisnya.
Penulis Utusan Banten dikenal dengan empat serangkai
ABCD. A sebagai Andre adalah Atja, B sebagai Basri
adalah Chutbany, C sebagai Chemmy adalah Sian Fu dan D
sebagai Deddy yang sebenarnya adalah AS Sumiarsa.

Utusan Banten yang naik cetak di percetakan Persatoean
Djakarta sempat berkembang selama enam bulan. Namun
nasibnya sungguh tragis karena pada kurun waktu itu
pula mereka hanya memiliki semangat dan idealisme saja
tanpa ditunjang dengan pengalaman marketing sama
sekali. Utusan Banten hanya sempat terbit empat kali
dalam kurun waktu Januari hingga April 1954. Hanya
mampu menerbitkan tapi tak memperhatikan sirkulasi
dan pemasaran produk. Akibatnya, modal usaha pemberian
almarhum Karso Utomo Kohardjaja ludes, sebelum Utusan
Banten mencapai kemapanan.

Dilebur
Kesulitan yang dialami pengurus Utusan Banten
terpantau oleh H.M. Rafiudin Gogo Sandjarirdja yang
ketika itu menjabat sebagai Ketua Perburuhan Banten.
Dengan bantuan tiga motor DKW dari beliau akhirnya
Utusan Banten dilebur kemudian muncul dengan nama
baru, Gelora Massa. Penerbitan ini mendapat subsidi
dari Departemen Penerangan atas referensi dari Gogo
Sandjadirdja.

Gelora Massa yang terbit setiap hari Jum'at satu
minggu sekali, relatif dapat terbit atau bertahan
lebih lama hingga tahun 1959, atau sekitar kurang
lebih lima tahun dengan oplah 6 ribu eksemplar setiap
terbit. Jumlah itu didistribusikan kesejumlah daerah
seperti Tanjung Priuk, Tanah Abang, Bogor dan
Tangerang sebanyak 2000 eksemplar, Lampung 500
eksemplar sedang sisanya diedarkan di daerah Serang,
Pandeglang dan Lebak. Formatnya juga berubah menjadi
seukuran tabloid biasa dengan delapan halaman
hitam-putih.

Gelora Massa saat itu beralamat redaksi di jalan Mayor
Safe'i nomor 58, Lontar, yang sekarang digunakan
sebagai bengkel las di sebelah Kantor Damri. Ketika
itu tanah tersebut masih milik Damri. Adalah (Alm)
Rustam Rismunandi, seorang staf kantor DAMRI dan
mengajar di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama)
yang juga anggota Dewan Pemerintahan Daerah Kabupaten
Serang menjadi Pemimpin Umum Gelora Massa. Rustam
Rismunandi memang aktif di bidang jurnalistik dan
manajemen, sehingga Gelora Massa sempat mencapai
sukses dan turut mengembangkan kegiatan pembangunan
daerah.

Bertindak sebagai pimpinan redaksi adalah H. Djaja
Sardjadirdja eks wartawan harian "Bintang Timur",
Jakarta yang juga sempat membuka bidang pembangunan di
bawah panji CV Ujung Kulon, Jakarta, dan menjabat
sebagai Ketua DPRD Tingkat II Kabupaten Serang.

Di bidang keredaksian diisi oleh Chutbany yang kini
bermukim di Bandung. Shien Fu yang sering dipanggil
Sian-Fu kini seorang pensiunan di Serang. AS Sumiarsa,
eks anggota kepolisian, kini tinggal di Ciwidey
Bandung, Tato S dari Cilegon, kini masih aktif di
bidang jurnalistik di Bandung, serta Andi Azis asal
Lampung, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Sedangkan untuk wartawannya tersebut Raden Mas Mulyadi
dan Kusnen dari Pandeglang yang juga sebagai wartawan
Merah Putih Surabaya.

Romantika
Pada tahun 50-an, percetakan di daerah Banten masih
merupakan barang langka. Kalaupun ada, satu-satunya
percetakan yang ada di kota Serang adalah Percetakan
"Serang", peninggalan Belanda yang pernah dikelola
oleh (Alm) Abdul Razak dan (Alm) Solihin. Karena masih
memakai sistem hand-press, maka tentu saja percetakan
tersebut tidak dapat mencetak format koran. Oleh
karena itulah Gelora Massa harus naik cetak di
Jakarta, yaitu pada percetakan harian "Suluh
Indonesia" di Jl Kran Kemayoran.

Percetakan itu juga yang mencetak mingguan "Berita
Indonesia", yang sangat populer dengan rubik 'Gambang
Kromong'-nya Firman Muntako. Sastrawan tenar WS Rendra
yang pada saat itu baru saja hijrah ke Jakarta, sering
tampak berkunjung ke kantor redaksi "Berita
Indonesia". Kadang ia menyerahkan sajak-sajaknya pada
Gelora Massa. Maka tak heran bila pada rubrik
"Kebudayaan" Gelora Massa sering ditemui sajak-sajak
si "Burung Merak" itu, di samping karya tulis dari
para muda-mudi Banten.

Beruntung Gelora Massa memiliki rekomendasi dari
Departemen Penerangan sehingga dengan mudah mendapat
"jatah" kertas koran yang ketika itu memang sangat
sulit didapat. Jika saja pengurus Gelora Massa ketika
itu tidak mempunyai idealisme tinggi dengan daerah
Banten dan hanya ingin mencari keuntungan, tentu
pengurus sudah dapat untung besar tanpa kerja keras.
Jatah kertas koran yang didapat selalu ditawar dengan
harga tinggi oleh calo-calo kertas yang akan digunakan
untuk pembuatan komik-komik atau terbitan lain yang
sejenis.

Untuk ke Jakarta saat itu hanya ada bus Ciang Tiam
yang kemudian berganti nama jadi Madju dan terakhir
menjadi Koepoe-Koepoe. Jarak Serang ke Jakarta lewat
Tangerang sejauh 100 KM harus ditempuh dalam waktu
empat hingga lima jam untuk sampai di terminal Bungur
Besar. Itu merupakan salah satu kendala yang tidak
ringan bagi usaha penerbitan pers daerah di masa itu.

Karena Gelora Massa terbit setiap hari Jum'at, maka
setiap hari Rabu, salah seorang staf redaksi berangkat
ke Jakarta mengantarkan naskah untuk setting. Tidak
jarang pula harus bermalam di percetakan, sambil
mencari tambahan berita nasional. Pukul tujuh pagi
esok harinya harus siap naik cetak dan selesai cetak
jam delapan malam. Untuk itu setiap malam Jumat sebuah
mobil sedan dinas DPRD Kabupaten Serang, secara khusus
datang menjemput staf dan mingguan Gelora Massa yang
selesai dicetak untuk diangkut ke Serang, agar dapat
dibaca masyarakat pada hari Jum'at pagi.

Cerita Misteri
Perjalanan malam melalui jalan raya Serang bukanlah
hal yang nyaman. Tiap kali setelah melewati jembatan
Cisadane di kota Tangerang, para kru Gelora Massa
harus bersiap-siap menghadapi hal-hal yang
sewaktu-waktu terjadi di luar keinginan pemakai jalan.
Sepanjang jalan tak ada lampu penerangan jalan umum
(PJU), karena memang dulu masih langka jaringan
listrik. Jalannya pun sempit dan berlubang-lubang.

Di tepi jalan berjajar pohon asam tua yang
besar-besar. Sedang jarak antara satu kampung dengan
kampung lainnya cukup jauh. Sungguh sangat seram dan
menjenuhkan. Kendati lelah, karena telah bekerja keras
selama dua hari dua malam, kru Gelora Massa tidak
berani tidur dalam perjalanan takut mengganggu
konsentrasi supir. Para kru masih harus begadang
menemani sang pengemudi agar tidak ikut mengantuk.

Untuk membunuh waktu, pikiran para kru Gelora Massa
menerawang entah kemana. Mereka tidak berani
berbincang-bincang, menghormati sang supir yang selalu
terlihat serius sekali mengendara mobilnya. Saat
itulah muncul ide cerita misteri yang dilatar
belakangi setting daerah sekitar jalan raya
Serang-Tangerang. Jadilah sebuah kisah "Si Manis
Damayanti". Cerita itu mengisahkan tentang mahluk
halus yang disebut Nyi Damayanti, yang sering muncul
di sepanjang jalan raya Serang-Tangerang, terutama
pada malam Jum'at.

Cerita fiktif ini mendapat perhatian luar biasa dari
para pembaca, bahkan penulis cerita kerap ditanya oleh
keluarga atau teman-teman serta para pembaca yang
penasaran, selalu tidak mau memberi keterangan yang
lebih rinci, paling-paling hanya menjawab dengan
senyuman penuh misteri, karena setelah diberi
keterangan, ternyata tokoh Nyi Damayanti memang ada
dan menjadi legenda di daerah itu. Dengan demikian
apakah Nyi Damayanti telah mengilhami kru Gelora Massa
secara langsung?

PWI Banten Pertama
Sebelum adanya Utusan Banten dan Gelora Massa, memang
pernah terbit beberapa media cetak di Banten ini,
kemudian ada yang berbahasa Sunda di Lebak bahkan ada
yang diterbitkan oleh Belanda. Namun jika yang menjadi
ukuran adalah media yang dibuat dan diterbitkan oleh
"Wong Banten" sendiri untuk pertama kalinya adalah
Utusan Banten dan Gelora Massa. Oleh sebab itu ketika
PWI Perwakilan Banten pertama kali berdiri, tidak lain
isi pengurusnya adalah dari Gelora Massa itu sendiri.

Berkantor di sebuah ruang depan Gedung Kodim Alun-alun
Serang (sekarang berubah menjadi mall), PWI Perwakilan
Banten dipimpin pertama kalinya oleh Rustam Rismunandi
dengan Sekretaris Djaja Sandjadirdja pada tahun 1956.
Sedang anggotanya terdiri dari Rustam Rismunandi, H.
Djaja Sandjadirdja, Chutbany, AS Sumiarsa, Sian Fu,
Raden Mas Mulyadi, dan Kusnen dari Pandeglang. Saat
itu kartu pers yang mereka pegang ditandatangani oleh
Ketua PWI Pusat, Karim DP. ***

Diceritakan secara singkat oleh Chemmy kepada M. Iwan.

Sianfu:
Kegalauan dan Idealisme Praktisi Pers

Saat ditemui di tempat mangkalnya, di sebuah gallery
di bilangan Pocis Serang, Sianfu atau yang dikenal
juga sebagai Theodorus Ko Kian Hoe, terlihat lebih
segar dibanding usianya yang sudah menapaki senja.
Selain menceritakan pengalaman-pengalam an indah ketika
masih aktif di dunia jurnalistik pada tahun 50-an, ia
juga mengungkapkan perasaannya dan harapan-harapan ke
depan bagi perkembangan jurnalistik khususnya di
Banten ini.

Pengalamannya dibidang jurnalistik dan ingatannya pada
peristiwa-peristiwa masa lalu yang pernah dilaluinya
masih melekat erat. Oleh sebab itu tidak heran jika Ko
Kian Hoe sering dijumpai berdiskusi dengan praktisi
jurnalistik muda di Banten ini. Dirinya kerap kali
menjadi nara sumber baik media lokal maupun nasional
yang ingin mengetahui keadaan Banten masa itu.

Sedikit kekhawatiran dirinya tentang jejak sejarah
pers di Banten diungkapkan pula pada kesempatan ini.
"Bahkan praktisi pers sekarangpun seperti tidak mau
tahu tentang sejarahnya. Banyak disinformasi yang
beredar tentang penerbitan masa lalu," ujar kakek
seorang cucu ini galau.

Sianfu menyanggah adanya sebuah buku yang menuliskan
bahwa Utusan Banten di cetak di Serang. "Memang saat
itu hanya ada satu percetakan di Serang, namun masih
menggunakan handpress sehingga tidak mungkin dapat
mencetak gambar atau foto. Walau dengan format
hitam-putih, Utusan Banten saat itu sudah menampilkan
foto-foto. Jadi hal ini juga harus diluruskan,"
tambahnya.

"Apalagi jika menyangkut PWI. Walau dahulu sempat
mendirikan PWI cabang Banten dan mempunyai kartu pers
yang dikeluarkan PWI Pusat, apakah data itu ada atau
setidaknya PWI Banten sekarang ini mengetahuinya, "
tutur pria kelahiran Banjarnegara ini. "Apa tanggapan
mereka tentang hal ini" ujarnya.

Banyak dokumen tulisan dan foto yang musnah terbakar
ketika tahun 1965 termasuk tercecernya bukti outentik
penerbitan Utusan Banten. "Selama ini saya berusaha
menemukan beberapa penerbitan Utusan Banten dan Gelora
Massa hingga ke Bandung, namun hasilnya nihil. Tapi
saya percaya bahwa terbitan itu masih ada yang
memiliki," ungkapnya.

Ternyata dalam beberapa waktu ini Sianfu sedang
menyiapkan sebuah "museum mini" penerbitan pers di
Banten. Saat ini terlihat sudah ada dua buah mesin
ketik kuno yang dipakai saat itu. Untuk sementara
benda tersebut disimpan di Gallery WongBanten di Jalan
P. Diponegoro 22 Serang, tempat anaknya tinggal.

"Saya juga sedang mencari kamera yang dahulu pernah
digunakan meliput Bung Karno berpidato di Alun-alun
Serang," ungkapnya bersemangat. Sianfu juga mohon
bantuan masyarakat yang memiliki penerbitan Utusan
Banten dan Gelora Massa untuk dapat meminjamkan atau
menyumbangkannya pada Musium Pers Mini ini.

Saat kran reformasi terbuka, penerbitan pers juga
mengalami peningkatan, terutama pada penerbitan lokal.
Yang jelas ada satu kesamaan yang dirasakan pada
penerbitan dahulu maupun saat ini terutama dari
kalangan pembacanya. Masyarakat maupun Pemerintah
Daerah kerap tidak peduli dengan isi berita yang
menyangkut sosial masyarakat. Tapi jika beritanya
sudah mengarah kepada personal, pasti akan ramai dan
seperti cerita bersambung dimuat setiap hari.

"Ini menunjukan pers masih belum dianggap sebagai
mitra pembangunan daerah. Beritanya ada tetapi
responnya sangat lamban," ujar praktisi pers yang juga
menggeluti fotographi ini. "Idealnya Pemda maupun
Pemprov menjadikan pers sebagai mitra pembangunan
daerah, sebaliknya pers juga harus bisa memberikan
solusi bagi berbagai persoalan," tambahnya.

Ia mengharapkan sekecil apapun yang dilakukannya saat
merintis penerbitan pers ketika itu setidaknya dapat
memberi motivasi pada praktisi pers saat ini. Walau
bukan penghargaan yang ia inginkan, setidaknya Sianfu
berbesar hati telah turut berpartisipasi bersama rekan
seperjuangannya untuk memberikan sedikit arti dalam
perjalanan panjang pers di Banten. "Sedikit sumbangsih
untuk Banten yang kami cintai ini karena kami bangga
menjadi anak Banten," ujarnya menutup pembicaraan. ***

> Salam,
> Saya ingin tahu sejarah pers di Banten seperti apa.
> Ada yang tahu? Ada
> yang tahu buku apa yang bisa saya baca? Terimakasih
> atas informasinya.
>
> Salam
> Ibnu AA
> Universitas Leiden, Belanda

Saturday, May 19, 2007

Tugu Monas


Tugu Peringatan Nasional yang satu ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Monumen Nasional yang berada dipusat kota Jakarta yaitu di Lapangan Monas Jakarta Pusat dibangun pada tahun 1960.Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmar yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 137 meter. Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaanTugu Peringatan Nasional ini lebih dikenal dengan sebutan Tugu Monas yang dibangun diareal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan F. Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Monas mengalami lima kali pergantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.
Air mancur Menghiasi Tugu Monas Disekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung kesini. Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga keatas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta yang semakin padat dan semrawut dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, Senin - Sabtu mulai pukul 9.00 - 16.00 WIB.

WARGA EMPAT KECAMATAN DI SUKABUMI MENGUNGSI

Mercusuarpost, Sukabumi: Gelombang pasang sejak Jum'at (18/5) pagi menimpa sejumlah pantai di selatan Pulau Jawa. Gelombang pasang setinggi tujuh meter, antara lain, menghantam pesisir pantai selatan Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Ratusan bangunan yang berada di sisi pantai selatan rusak berat.
Kerusakan paling parah terjadi di Desa Patuguran dan Desa Rawa Kalong, Kecamatan Pelabuhan Ratu. Selain menghancurkan ratusan bangunan, air laut juga sempat merendam ratusan rumah setinggi lutut orang dewasa.
Gelombang besar juga membuat warga di empat kecamatan, yakni Pelabuhan Ratu, Cikakak, Simpenan dan Ciracap mengungsi. Mereka mengungsi dengan menempati Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi. Jum'at siang kemarin tim Satkorlak mulai mengevakuasi warga di empat kecamatan untuk mengungsi.
Gelombang pasang di kawasan wisata Kuta, Bali, membuat panik para wisatawan dan pengelola tempat wisata. Gelombang naik hingga ke jalan raya sepanjang Pantai Kuta. Meski demikian, pengelola wisata masih membuka lokasi wisata untuk umum. Menurut catatan Badan Meteorologi dan Geofisikan, angin ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga tiga hari kedepan.(Mas)

Buruh Demo Kantor Polres Metro Tanggerang

Mercusuarpost, Tangerang: Ribuan buruh dari Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia mendatangi Kepolisian Resor Metro Tangerang, Banten. Mereka mendesak kepolisian membebaskan rekan mereka yang ditangkap dalam peringatan hari buruh, 1 Mei silam. Para buruh yang datang dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat ini sempat menutup Jalan Daan Mogot yang persis berada di depan Polres Metro Tangerang.
Unjuk rasa ini adalah kali ketiga di Polres Metro Tangerang. Adalah Sarta, rekan para buruh yang ditahan dalam unjuk rasa peringatan Hari Buruh Dunia, 1 Mei silam. Dalam orasinya, Ketua Majelis Pertimbangan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Mochtar Pakpahan mengatakan pihak kepolisian telah melakukan pelanggaran hukum dengan menahan buruh yang berunjuk rasa.(BY

PEMERINTAH AKAN MEMBENTUK UU UNTUK PEKERJA DI-PHK

MENAKERTRANS: SISTEM OUTSOURCING PERLU PENGAWASAN
Mercusuarpost, Jakarta: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno berjanji akan mengkaji sistem kerja kontrak dan outsourcing yang ditentang para buruh dalam peringatan Hari Buruh Sedunia 1 Mei atau yang dikenal dengan May Day. "Pelaksanaan daripada outsourcing itu yang notabene nanti merugikan kepada pekerja atau buruh. Untuk itu maka masalah outsourcing ini, tentu di dalam implementasinya perlu sebuah pengawasan secara terpadu atau gabungan," jelas Menakertrans di hadapan sepuluh perwakilan serikat pekerja yang diterimanya di Kantor Depnakertrnas di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Dalam pertemuan, perwakilan buruh menyampaikan beberapa tuntutan, di antaranya penghapusan sistem kerja kontrak dan menentang kerjas sistem outsourcing. Mereka menilai, dua sistem kerja tadi sangat merugikan para pekerja karena sewaktu-waktu para buruh dan pekerja bisa dikenakan pemutusan hubungan kerja sepihak. Selain itu, mereka juga menolak Kawasan Ekonomi Khusus yang juga dinilai menyengsarakan kaum buruh.
Atas semua tuntutan tersebut, Menakertrans berjanji akan mengkajinya jika memang peraturan ketenagakerjaan itu bertabrakan dengan peraturan lainnya serta merugikan kaum buruh. Hanya, menyoal tuntutan 1 Mei dijadikan hari libur nasional, Menakertrans mengaku hal itu bukan wewenangnya. Ia berjanji akan mengkoordinasikan hal tersebut dengan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan harus persetujuan DPR.
Di luar ruang pertemuan, ribuan buruh terus berorasi menyampaikan tuntutannya. Dari sekian banyak serikat pekerja yang mengikuti demo ini, satu di antaranya adalah Serikat Buruh Migran. Mereka menyuarakan tuntutan, antara lain mengenai jaminan keselamatan kerja di luar negeri. Menurut mereka, selama ini, banyak kasus kekerasan yang bahkan merenggut nyawa kaum pekerja, tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Banyak kaum buruh yang mendapat perlakukan kasar di luar negeri, dibiarkan begitu saja, tanpa pengusutan yang pasti dari pemerintah.
Para buruh juga menuntut pemerintah segera memulangkan jenazah-jenazah pekerja migran yang meninggal di luar negeri. Yang paling penting adalah mengusut tuntas penyebab-penyebab kematian para buruh migran. Dan pemerintah diminta melakukan tindakan preventif untuk mengurangi angka kematian buruh di luar negeri.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno mengatakan perlu dibuatnya rancangan peraturan pemerintah (RPP) untuk menjadi payung hukum yang jelas bagi para pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja. Demikian ditegaskan Erman seusai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, (16/5).
Erman mengatakan, dalam RPP itu nantinya akan dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan, yang terdiri dari perusahaan itu sendiri, Jamsostek, perusahaan dana pensiun atau asuransi. Untuk besaran iurannya, menurut Erman, itu akan ditentukan oleh masing-masing perusahaan. Sementara dana yang dikelola, 70 persennya akan ditempatkan sebagai obligasi pemerintah. Dan sisanya dikelola secara investasi maupun reasuransi. RPP ini sendiri ditargetkan akan selesai pada bulan ini.

MAHASISWA BANTEN MENGECAM PRAKTIK PENGOPLOSAN PREMIUM

Mercusuarpost, Serang: Kasus bahan bakar minyak jenis premium oplosan yang marak di Banten, membuat mahasiswa setempat bereaksi. Jumat (18), puluhan mahasiswa Banten berunjuk rasa di Simpang Ciceri, Serang, Banten. Mereka mengecam praktik pengoplosan BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Menurut pengunjuk rasa, praktek tersebut telah mengakibatkan kerusakan mesin kendaraan.
Dalam aksi ini, mahasiswa sempat menyandera sebuah mobil tangki berisi BBM yang melintas di dekat lokasi unjuk rasa. Sebagian mahasiswa naik ke atas mobil tangki. Sebagaian lagi memaksa pengemudi mobil tangki menghentikan kendaraan. Polisi akhirnya berhasil membebaskan mobil tangki yang disandera mahasiswa. Mahasiswa kemudian melanjutkan aksi dengan longmars menuju SPBU Ciceri. Pengunjuk rasa mendorong sepeda motor mereka sebagai bentuk protes. Di depan SPBU Ciceri, mahasiswa melanjutkan aksi dengan berorasi mengecam praktik pengoplosan BBM.(BY)

Wednesday, May 16, 2007

Wisata Selat Sunda:


Dari Pemandangan Pantai hingga Petilasan Gubernur Jenderal Belanda


OlehIman Nur RosyadiBANTEN – Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam.Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya. Sedangkan cottage-cottage pun bertumbuhan bak jamur di musim hujan, dan terkesan menyembunyikan diri dengan membangun tembok-tembok yang tinggi. Para pengunjung cottage langsung masuk ke area itu dengan kendaraan. Tak banyak aktivitas mereka yang bisa dilihat dari luar. Tembok tinggi memang telah menutupi mereka, dengan alasan menjaga kegiatan pribadi. Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang. Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia. Rute alternatif ini tidak serius didandani pemerintah setempat, menimbulkan kesan yang kurang sedap. Jalan sempit dan rusak di beberapa ruasnya. Jika malam, ruas jalan ini benar-benar gelap, sehingga menakutkan pengemudi kendaraan. Gunung dan JalanSelain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang. “Tujuannya untuk mempromosikan wisata di Selat Sunda. Dalam momen ini juga berlangsung transaksi antara perusahaan pariwisata dengan pengelola wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun 2004 ada 15 negara yang mengirimkan pengusahanya,” kata Sulaeman Affandi, Kepala Disbudpar Banten kepada SH. Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu. Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut. Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang. Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta. (*)

Wisata Ziarah di Reruntuhan Kerajaan Banten


Oleh : Iman Nur Rosyadi

BANTEN — Dwi (28) bersimpuh di depan makam Sultan Hasanudin yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten di Desa Banten, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten. Mulutnya komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan.“Setiap hari Jumat saya ke sini, sekadar berziarah kepada para leluhur dan mencari berkah. Sebulan sekali pada malam Jumat saya tidur di masjid ini untuk membaca doa-doa, wirid, atau membaca Al-Quran,” kata Dwi yang lahir di Yogyakarta dan sudah tujuh tahun tinggal di Kota Serang. Biasanya sepulang dari berziarah, Dwi membawa air putih dalam botol kemasan air mineral. Air ini sengaja diletakkan di dekat makam raja ketika dia berwirid atau membaca Al-Quran. Air ini diyakini telah diberkati. “Airnya saya percikkan ke sekitar tempat saya berdagang. Ini sudah kebiasaan saya,” katanya. Dwi tidak sendirian. Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten yang jaya pada abad ke-12. Mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini. Sultan Hasanudin merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Islam Banten setelah didirikan oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah yang kemudian berdiam di Gunung Jati, Cirebon. Gelar yang dipangku saat itu adalah Panembahan Maulana Hasanudin. Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Pemindahan ibu kota ini setelah Pucuk Umun (Raja Banten) ditaklukkan dan daerahnya diislamkan. Kejayaan kerajaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya niaga antara negara dan pesatnya perkembangan pelabuhan. Tercatat bangsa yang berniaga itu adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Kejayaan pelabuhan ini menggeser ketenaran Sunda Kelapa (Jakarta). Namun Belanda menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya. Belanda berhasil meyakinkan Sultan Haji untuk menyerahkan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa ke Belanda untuk dipenjara dan diasingkan. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri. Kini reruntuhan keraton ini berserakan di atas tanah seluas 3,5 hektare di Desa Banten. Hanya Masjid Agung yang utuh dan telah direnovasi berulang-ulang. Bangunan-bangunan di kawasan kerajaan ini nyaris rata dengan tanah. Sisa-sisa keraton ini yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berziarah yang diyakini mendatangkan keberkahan bagi yang mempercainya.

Makam Raja-rajaSejak dari Kota Serang menuju Banten sebenarnya wisata ziarah sudah bisa dimulai. Sepanjang jalan itu terdapat makam-makam raja dan pembesar kerajaan yang terkenal namanya, karena kebajikan maupun kepahlawanannya melawan penjajahan. Misalnya, Maulana Yusuf yang terkenal dalam penyebaran agama Islam, serta Pangeran Arya Mandalika. Makam itu disertai dengan fasilitas parkir, kolam untuk wudhu, MCK, dan sebagainya. Mendekati lokasi Masjid Agung Banten terdapat reruntuhan Keraton Kaibon yang kini sudah dipagar. Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta. Keraton Surosowan merupakan pusat reruntuhan kerajaan yang kini tinggal tembok tinggi, pondasi-pondasi dan bagian-bagian kecil yang tersisa. Di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasikardi dengan keraton. Tasikardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat masjid agung dan sebuah museum yang memajangkan berbagai benda pusaka. “Dulu, kapal-kapal perniagaan bisa merapat ke dekat keraton ini dan menyusuri Sungai Cibanten hingga ke Girang (daerah hulu yang sekarang dikenal Banten Girang di Kota Serang). Sekarang semuanya sudah tertutup, bahkan pembuatan Pelabuhan Karanghantu justru telah merusak tapak kerajaan,” kata Fatul Adhzim, pemimpin pesantren yang masih keturunan bangsawan Kerajaan Banten. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyediakan terminal dan lapangan parkir cukup luas untuk kendaraan wisatawan. Dari parkir ini, dibuat jalan paving block untuk berjalan kaki menuju Masjid Agung dan makam Sultan Hasanudin. Sayangnya, lapangan parkir dan pinggir jalan itu dipenuhi berbagai pedagang mulai dari penjual kopiah, kemenyan, penganan hingga buah-buahan. Kondisi ini ditingkahi para pengemis yang masih anak-anak yang setia mengikuti pengunjung sebelum diberi uang recehan. Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta. Keduanya merupakan hadiah dari Portugis dan digunakan untuk menjaga pantai. Konon, siapa yang sudah merangkul kedua meriam itu akan hidup bahagia dan serasi dengan pasangan hidupnya. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga, keberanian dan kegarangan Si Jagur akan menular kepadanya. Si Jagur ditempatkan di depan halaman Museum yang dibangun pemerintah pusat. Di museum itu dipajang penemuan hasil penggalian para arkeolog mulai dari gerabah, persolen cina, mata uang Banten, persenjataan hingga baju-baju kerajaan. Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Menara ini biasa dinaiki pengunjung. Di atasnya, bisa melihat laut sebelah utara dan pulau-pulau kecil, pelabuhan, serta perkampungan di sekitar reruntuhan kerajaan. Pada sore hari, pemandangannya sangat menakjubkan. Sebelum berziarah ke makam raja, jangan lupa membeli air mineral untuk meangkap berkah doa-doa. Pulangnya. Jangan lupa pula, menyiapkan recehan karena akan diserbu pengemis anak-anak yang merengek dan mengikuti Anda. Sekali Anda memberi recehan, pengemis lain akan mengerubuti Anda.

Bukti Kejayaan Kasultanan Banten


Masjid Agung Banten

* Bambang Setia Budi

MASJID Agung Banten, sebagaimana masjid tua dan bersejarah lainnya, selalu diramaikan para peziarah yang bisa mencapai ribuan orang tiap hari, baik pagi, siang, maupun malam hari dari berbagai daerah di Jawa umumnya.
Sering kali jumlah mereka mencapai puncaknya pada tanggal 14 Maulud karena pada dua hari sebelumnya, yakni tanggal 12 Maulud atau pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 25 Mei 2002 diadakan peringatan maulid (kelahiran) Nabi di Masjid Agung Banten.
Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, itu menjadi obyek wisata ziarah arsitektur yang sangat menarik karena gaya seni bangunan yang unik dan terdapat banyak elemen arsitektur menarik.
Sisi menarik pertama dari bangunan utama masjid, yang dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, itu adalah atapnya yang tumpuk lima. Menurut tradisi, rancangan bangunan utama masjid yang beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek Cina bernama Cek Ban Cut. Selain jumlah tumpukan, bentuk dan ekspresinya juga menampilkan keunikan yang tidak ditemui kesamaannya dengan masjid-masjid di sepanjang Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia.
Hanya lukisan Masjid Jepara sekitar abad ke-16 yang dibuat Wouter Schouten dalam Reistogt Naar en Door Oostindien dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1676 serta dicetak ulang tahun 1780 memperlihatkan masjid beratap tumpuk lima. Masjid yang lukisannya pernah dipublikasikan Francois Valentijn dalam Oude en nieuw Oost-Indien itu memperlihatkan idiom pagoda Cina, baik dari bentuk, ekspresi, hingga ukirannya.
Menurut Graaf dan Pigeaud, Masjid Agung Banten sejak awalnya beratap tumpuk lima, namun pada abad ke-17 pernah diubah menjadi tiga. Hal demikian dimungkinkan karena dua atap tumpuk teratas sebenarnya hanya atap tambahan yang ditopang tiang pusat yang bila dihilangkan tidak mengganggu konstruksi di bawahnya.
Yang paling menarik dari atap Masjid Agung Banten adalah justru pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom pagoda Cina. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan. Tak heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu sebetulnya dapat dibaca dalam dua penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau masjid beratap tumpuk tiga dengan ditambah dua mahkota di atasnya sebagai elemen estetik.
***
ELEMEN menarik lainnya adalah menara di sebelah timur yang besar dan monumental serta tergolong unik karena belum pernah terdapat bentuk menara seperti itu di Jawa, bahkan di seluruh Nusantara. Dikarenakan menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa.
Tradisi menyebutkan, menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini dulunya konon lebih berfungsi sebagai menara pandang/ pengamat ke lepas pantai karena bentuknya yang mirip mercusuar daripada sebagai tempat mengumandangkan azan. Yang jelas, semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.
Catatan Dirk van Lier di tahun 1659 maupun Wouter Schouten yang datang pada tahun 1661 menyebut, menara masih digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata/amunisi orang Banten. Kemudian baru antara lain tulisan Stavorinus yang menulis tentang Banten tahun 1769 menyebut menara sebagai tempat memanggil orang untuk bersembahyang.
Berita itu menunjukkan pula menara telah dibangun tidak berselang lama dengan pembangunan masjid. Dari hasil penelusuran Dr KC Crucq, yang pernah dimuat dalam karangannya berjudul Aanteekeningen Over de Manara te Banten (Beberapa Catatan tentang Menara di Banten) yang dipublikasikan dalam Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and Volkenkunde van Nederlandsch Indie, dinyatakan, menara dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan menikah.
Seperti dikatakan Pijper (1947:280), menara berbentuk segi delapan itu mengingatkan pada bentuk mercusuar, khususnya mercu Belanda. Saat ini ada bukti peninggalan mercusuar buatan Belanda di Anyer sebelah barat Serang dari abad ke-19, yakni bangunan mercusuar yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan Menara Masjid Agung Banten. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat.
Namun, dari sisi ragam hias, menara Masjid Agung Banten tampak terpengaruh seni ragam hias yang terdapat di Jawa, seperti hiasan kepala menara berbentuk dagoba atau hiasan segi tiga memanjang yang dikenal sebagai tumpal. Keduanya banyak dijumpai pada Candi Jago di Jawa Timur dan candi-candi lainnya. Bahkan, motif relung pada pintu menara seakan-akan merupakan penyederhanaan motif kala-makara dalam tradisi kebudayaan Indonesia pra-Islam seperti juga dekorasi mihrab Masjid Agung Kasepuhan di Cirebon.
Di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun). Bangunan yang dirancang arsitek Belanda Hendrik Lucasz Cardeel di abad ke-18 itu dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan yang berdenah empat persegi panjang, dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga buah ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.
***
SEBENARNYA masih banyak elemen unik lainnya yang secara singkat dapat disebutkan, seperti adanya umpak dari batu andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.
Selain itu, terdapat mimbar yang besar dan antik penuh hiasan dan warna. Tempat khotbah ini merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23 Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Berbeda dari mimbarnya yang menarik perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini sangat berbeda dari mihrab yang berkembang pada masjid di belahan dunia lain.
Adanya pendopo dan kolam untuk wudu di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa.
Yang aneh adalah tata letak makam. Secara tradisi, makam pada kompleks masjid tradisional di Jawa diletakkan di sisi barat, namun di masjid ini diletakkan di sisi utara. Tata letak ini berkembang di beberapa masjid bersejarah di wilayah Banten, seperti di Masjid Kasunyatan. Ini memberi tradisi baru pada masjid tradisional di Jawa, selain adanya elemen menara.
* Bambang Setia Budi, Peneliti pada Pusat Dokumentasi Masjid Nusantara "Masjid 2000" dan staf pengajar Jurusan Arsitektur ITB

Monday, May 14, 2007

PBSD Siapkan Tim Pemenangan Pilkada Kab. Tanggerang


Cisoka –DPC Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) Kabupaten Tangerang tengah mempersiapkan pembentukan Tim Koordinasi Pemenangan Pilkada (TKPP).
Ketua DPC PBSD Kabupaten Tangerang Dewa Sukma Kelana,SH mengatakan, tim tersebut beranggotakan sembilan orang yang terdiri dari unsur DPC, badan otonom, organisasi perempuan PBSD, dan PAC. “Tim saat ini tengah disiapkan dan segera terbentuk. Diperkirakan tim ini terbentuk empat atau enam bulan sebelum pilkada digelar,” kata Dewa, Senin (14/5). Kendati belum menyebut tokoh yang akan dijagokan dalam Pilkada yang rencananya digelar Fenruari 2008 mendatang, namun Dewa memastikan kalau tokoh tersebut yang bisa membawa perubahan di Kabupaten Tangerang. Dewa Optimistis sosok Ismet Iskandar akan membawa perubahan di Kabupaten Tangerang, sehingga partainya besar kemungkinan mengusung Ismet. “Kecenderungan begitu. Kami ingin perubahan. Ada kemungkinan kami akan berkoalisi dengan partai yang berkomitmen membawa perubahan,” kata ketua Front Nasional Pembela Penyelamat Negara Kesatuan Republik Indonesia (FNPPNKRI) Propinsi Banten ini. Sekadar mengingatkan, pada Pilkada Banten 2006 lalu, PBSD Propinsi sudah salah mengusung kali ini PBSD meyakini Ismet Iskandar lah yang masih cocok menjadi bupati Tangerang periode 2008-2013. Untuk pilkada kali ini, ada sinyal kalau PBSD akan berkoalisi dengan Partai-Partai Non Parlemen dan Partai Golkar yang dipastikan akan mengusung Ismet Iskandar. Sebelumnya, fungsionaris DPC PBSD Kabupaten Tangerang Djunaedi menyambut partai-partai yang akan jalen bareng dengan PBSD menghadapi pilkada mendatang. “Makin banyak partai yang ingin meneruskan keberhasilan, makin bagus. Dan, itu memang diperlukan agar Kabupaten Tangerang berubah,” kata Djunaedi. Djunaedi menegaskan, hingga saat ini keputusan Muscab PBSD Kabupaten Tangerang yang mengamanatkan PBSD untuk mengusung calon bupati, belum berubah. Sehingga, hampir bisa dipastikan kalau PBSD akan mengusung H. Ismet Iskandar. (by)

PBSD Siapkan Sistem Tabulasi Berbasis Teknologi Informasi Untuk Pilkada Bupati


Persiapan Pilkada Bupati Tanggerang

Menjelang pilkada Bupati Tanggerang , PBSD telah menyiapkan sarana untuk mengawal proses perhitungan suara. Salah satunya dengan menyiapkan Sistem Tabulasi menggunakan IT yang mirip dengan sistem tabulasi KPU yang digunakan dalam pemilu 2004 dan pilpres. Sistem tabulasi yang akan digunakan untuk seluruh Kabuapten Tanggerang ini dioperasikan oleh DPC PBSD Kab Tangerang sebagai penanggung jawab. Menurut Ketua DPC PBSD Kabupaten Tangerang, Dewa Sukma Kelana, SH penggunaaan teknologi informasi ini dimaksudkan untuk secara cepat bisa mengetahui hasil pilkada Bupati nanti. "Diharapkan pada pilkada nanti, seluruh hasil TPS dan PPS se Kabupaten Tanggerang dapat masuk ke sistem tabulasi kami, dan saat itu juga kita berharap bisa tahu hasil pastinya (pilkada Bupati)", ujar alumni Universitas Bung karno ini."Kita ingin mengawal suara kita dengan sebaik mungkin, dengan sistem ini kami bisa langsung dengan cepat tahu seandainya muncul kecurangan-kecurangan dilapangan, karena salah satu yg dilaporkan oleh para saksi adalah apakah ada indikasi kecurangan di tiap TPS atau wilayah", jelasnya lebih lanjut.Secara teknis penanggungjawab Saksi DPC PBSD Kab Tangerang, Mayzone Gafitri, ST menjelaskan, "Berbeda dengan sistem tabulasi KPU yang menggunakan koneksi internet untuk pengiriman hasil suara, kami menggunakan SMS (Short Message Service) sebagai media melaporkan hasil suara di masing-masing TPS/PPS/PPK. Untuk itu kami sudah menyiapkan server dengan sistem operasi linux dilengkapi dengan beberapa modem GSM serta software sistem tabulasi di kantor kami. Dan saat ini sistem tabulasi ini sedang memproses registrasi saksi yang juga dilakukan melalui SMS""Setiap saksi atau koordinator saksi nantinya langsung melaporkan hasil di TPS yang ada dibawah koordinasinya dengan mengirim SMS dengan format tertentu ke nomer HP yang terhubung dengan server tabulasi di kantor DPC, begitu sampai langsung diproses oleh server dan ditampilkan hasilnya." jelasnya. Terkait kemungkinan para saksi salah mengirim SMS, Firdaus menjelaskan bahwa Sistem Tabulasi akan secara otomatis menjawab SMS yang salah dan memberitahu dimana kesalah formatnya. Begitu juga jika SMSnya berhasil diproses sistem tabulasi yang dikerjakan oleh tim IT DPC PBSD Kab Tangerang ini akan memberikan SMS balasan.

Dari hasil sistem tabulasi ini, kita bisa tahu secara pasti dimana basis-basis suara PBSD dan nantinya sangat bermanfaat dalam menentukan kebijakan pemenangan pilkada 2008 mendatang." ujar Dewa.Dalam musyawarah daerah yang lalu, PBSD Kab Tangerang sudah memutuskan untuk mengusung H. Ismet Iskandar yang saat ini masih menjabat Bupati Tanggerang

PBSD Mulai Jaring Cabup Tanggerang


TANGERANG- Meski masih menyisakan satu tahun lagi, dalam upaya maksimal untuk meraih kursi bupati dan wakil bupati dalam Pilkada Kabupaten Tangerang ditunjukkan Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD)Kabupaten Tangerang, itu telah membentuk tim penjaringan calon. Tim yang jumlahnya mencapai 23 orang itu diberinama Tim Optimalisasi Pemenangan (TOP) telah dibentuk sejak sepekan yang lalu. “Sejak dibentuk, kami sudah mulai bekerja dengan langkah awal pembagian tugas untuk masing-masing anggota,” ujar salah seorang anggota TOP, Madani akhir pekan lalu kepada Mercusuar Post. TOP sendiri diketuai oleh Muhani yang juga BendaharaDPC PBSD Kabupaten Tangerang, kata Madani, akan bertugas melakukan penjaringan calon dan tugasnya akan berakhir setelah cabup dan cawabup secara resmi diusung partai.“Mengenai waktu tepatnya, kami masih menunggu SK (surat keputusan, red) dari DPD yang akan turun pada pecan ini,” tukas Madani.Madani mengatakan, keanggotaan TOP terdiri dari pegurus DPD Provinsi Banten yang berdomisili di Kabupaten Tangerang yakni, Dewa, SK, Djunaedi, Hendara Saleh. Serta perwakilan dari DPP PBSD yang berdomisili di Kabupaten Tanggerang. Dari Kabupaten Tangerang sendiri, selain Madani yang menjabat Ketua MPD PBSD Kabupaten Tangerang juga melibatkan unsur pimpinan Serikat Buruh/Serikat Pekerja Kabupaten Tangerang, Aang SH dan para Ormas Sayap PBSD Kabupaten Tangerang, Maulana, serta Ketua Pasukan Wijaya Kusuma Kabupaten Tangerang, Jajang. Untuk DPC PBSD Kabupaten Tangerang sendiri, pungurus harian masuk dalam keanggotaan TOP.