
Wednesday, May 16, 2007
Wisata Selat Sunda:

Dari Pemandangan Pantai hingga Petilasan Gubernur Jenderal Belanda
OlehIman Nur RosyadiBANTEN – Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam.Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya. Sedangkan cottage-cottage pun bertumbuhan bak jamur di musim hujan, dan terkesan menyembunyikan diri dengan membangun tembok-tembok yang tinggi. Para pengunjung cottage langsung masuk ke area itu dengan kendaraan. Tak banyak aktivitas mereka yang bisa dilihat dari luar. Tembok tinggi memang telah menutupi mereka, dengan alasan menjaga kegiatan pribadi. Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang. Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia. Rute alternatif ini tidak serius didandani pemerintah setempat, menimbulkan kesan yang kurang sedap. Jalan sempit dan rusak di beberapa ruasnya. Jika malam, ruas jalan ini benar-benar gelap, sehingga menakutkan pengemudi kendaraan. Gunung dan JalanSelain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang. “Tujuannya untuk mempromosikan wisata di Selat Sunda. Dalam momen ini juga berlangsung transaksi antara perusahaan pariwisata dengan pengelola wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun 2004 ada 15 negara yang mengirimkan pengusahanya,” kata Sulaeman Affandi, Kepala Disbudpar Banten kepada SH. Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu. Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut. Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang. Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta. (*)
Wisata Ziarah di Reruntuhan Kerajaan Banten

Oleh : Iman Nur Rosyadi
BANTEN — Dwi (28) bersimpuh di depan makam Sultan Hasanudin yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten di Desa Banten, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten. Mulutnya komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan.“Setiap hari Jumat saya ke sini, sekadar berziarah kepada para leluhur dan mencari berkah. Sebulan sekali pada malam Jumat saya tidur di masjid ini untuk membaca doa-doa, wirid, atau membaca Al-Quran,” kata Dwi yang lahir di Yogyakarta dan sudah tujuh tahun tinggal di Kota Serang. Biasanya sepulang dari berziarah, Dwi membawa air putih dalam botol kemasan air mineral. Air ini sengaja diletakkan di dekat makam raja ketika dia berwirid atau membaca Al-Quran. Air ini diyakini telah diberkati. “Airnya saya percikkan ke sekitar tempat saya berdagang. Ini sudah kebiasaan saya,” katanya. Dwi tidak sendirian. Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten yang jaya pada abad ke-12. Mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini. Sultan Hasanudin merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Islam Banten setelah didirikan oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah yang kemudian berdiam di Gunung Jati, Cirebon. Gelar yang dipangku saat itu adalah Panembahan Maulana Hasanudin. Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Pemindahan ibu kota ini setelah Pucuk Umun (Raja Banten) ditaklukkan dan daerahnya diislamkan. Kejayaan kerajaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya niaga antara negara dan pesatnya perkembangan pelabuhan. Tercatat bangsa yang berniaga itu adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Kejayaan pelabuhan ini menggeser ketenaran Sunda Kelapa (Jakarta). Namun Belanda menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya. Belanda berhasil meyakinkan Sultan Haji untuk menyerahkan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa ke Belanda untuk dipenjara dan diasingkan. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri. Kini reruntuhan keraton ini berserakan di atas tanah seluas 3,5 hektare di Desa Banten. Hanya Masjid Agung yang utuh dan telah direnovasi berulang-ulang. Bangunan-bangunan di kawasan kerajaan ini nyaris rata dengan tanah. Sisa-sisa keraton ini yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berziarah yang diyakini mendatangkan keberkahan bagi yang mempercainya.
Makam Raja-rajaSejak dari Kota Serang menuju Banten sebenarnya wisata ziarah sudah bisa dimulai. Sepanjang jalan itu terdapat makam-makam raja dan pembesar kerajaan yang terkenal namanya, karena kebajikan maupun kepahlawanannya melawan penjajahan. Misalnya, Maulana Yusuf yang terkenal dalam penyebaran agama Islam, serta Pangeran Arya Mandalika. Makam itu disertai dengan fasilitas parkir, kolam untuk wudhu, MCK, dan sebagainya. Mendekati lokasi Masjid Agung Banten terdapat reruntuhan Keraton Kaibon yang kini sudah dipagar. Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta. Keraton Surosowan merupakan pusat reruntuhan kerajaan yang kini tinggal tembok tinggi, pondasi-pondasi dan bagian-bagian kecil yang tersisa. Di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasikardi dengan keraton. Tasikardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat masjid agung dan sebuah museum yang memajangkan berbagai benda pusaka. “Dulu, kapal-kapal perniagaan bisa merapat ke dekat keraton ini dan menyusuri Sungai Cibanten hingga ke Girang (daerah hulu yang sekarang dikenal Banten Girang di Kota Serang). Sekarang semuanya sudah tertutup, bahkan pembuatan Pelabuhan Karanghantu justru telah merusak tapak kerajaan,” kata Fatul Adhzim, pemimpin pesantren yang masih keturunan bangsawan Kerajaan Banten. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyediakan terminal dan lapangan parkir cukup luas untuk kendaraan wisatawan. Dari parkir ini, dibuat jalan paving block untuk berjalan kaki menuju Masjid Agung dan makam Sultan Hasanudin. Sayangnya, lapangan parkir dan pinggir jalan itu dipenuhi berbagai pedagang mulai dari penjual kopiah, kemenyan, penganan hingga buah-buahan. Kondisi ini ditingkahi para pengemis yang masih anak-anak yang setia mengikuti pengunjung sebelum diberi uang recehan. Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta. Keduanya merupakan hadiah dari Portugis dan digunakan untuk menjaga pantai. Konon, siapa yang sudah merangkul kedua meriam itu akan hidup bahagia dan serasi dengan pasangan hidupnya. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga, keberanian dan kegarangan Si Jagur akan menular kepadanya. Si Jagur ditempatkan di depan halaman Museum yang dibangun pemerintah pusat. Di museum itu dipajang penemuan hasil penggalian para arkeolog mulai dari gerabah, persolen cina, mata uang Banten, persenjataan hingga baju-baju kerajaan. Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Menara ini biasa dinaiki pengunjung. Di atasnya, bisa melihat laut sebelah utara dan pulau-pulau kecil, pelabuhan, serta perkampungan di sekitar reruntuhan kerajaan. Pada sore hari, pemandangannya sangat menakjubkan. Sebelum berziarah ke makam raja, jangan lupa membeli air mineral untuk meangkap berkah doa-doa. Pulangnya. Jangan lupa pula, menyiapkan recehan karena akan diserbu pengemis anak-anak yang merengek dan mengikuti Anda. Sekali Anda memberi recehan, pengemis lain akan mengerubuti Anda.
Bukti Kejayaan Kasultanan Banten

Masjid Agung Banten
* Bambang Setia Budi
MASJID Agung Banten, sebagaimana masjid tua dan bersejarah lainnya, selalu diramaikan para peziarah yang bisa mencapai ribuan orang tiap hari, baik pagi, siang, maupun malam hari dari berbagai daerah di Jawa umumnya.
Sering kali jumlah mereka mencapai puncaknya pada tanggal 14 Maulud karena pada dua hari sebelumnya, yakni tanggal 12 Maulud atau pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 25 Mei 2002 diadakan peringatan maulid (kelahiran) Nabi di Masjid Agung Banten.
Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, itu menjadi obyek wisata ziarah arsitektur yang sangat menarik karena gaya seni bangunan yang unik dan terdapat banyak elemen arsitektur menarik.
Sisi menarik pertama dari bangunan utama masjid, yang dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, itu adalah atapnya yang tumpuk lima. Menurut tradisi, rancangan bangunan utama masjid yang beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek Cina bernama Cek Ban Cut. Selain jumlah tumpukan, bentuk dan ekspresinya juga menampilkan keunikan yang tidak ditemui kesamaannya dengan masjid-masjid di sepanjang Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia.
Hanya lukisan Masjid Jepara sekitar abad ke-16 yang dibuat Wouter Schouten dalam Reistogt Naar en Door Oostindien dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1676 serta dicetak ulang tahun 1780 memperlihatkan masjid beratap tumpuk lima. Masjid yang lukisannya pernah dipublikasikan Francois Valentijn dalam Oude en nieuw Oost-Indien itu memperlihatkan idiom pagoda Cina, baik dari bentuk, ekspresi, hingga ukirannya.
Menurut Graaf dan Pigeaud, Masjid Agung Banten sejak awalnya beratap tumpuk lima, namun pada abad ke-17 pernah diubah menjadi tiga. Hal demikian dimungkinkan karena dua atap tumpuk teratas sebenarnya hanya atap tambahan yang ditopang tiang pusat yang bila dihilangkan tidak mengganggu konstruksi di bawahnya.
Yang paling menarik dari atap Masjid Agung Banten adalah justru pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom pagoda Cina. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan. Tak heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu sebetulnya dapat dibaca dalam dua penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau masjid beratap tumpuk tiga dengan ditambah dua mahkota di atasnya sebagai elemen estetik.
***
ELEMEN menarik lainnya adalah menara di sebelah timur yang besar dan monumental serta tergolong unik karena belum pernah terdapat bentuk menara seperti itu di Jawa, bahkan di seluruh Nusantara. Dikarenakan menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa.
Tradisi menyebutkan, menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini dulunya konon lebih berfungsi sebagai menara pandang/ pengamat ke lepas pantai karena bentuknya yang mirip mercusuar daripada sebagai tempat mengumandangkan azan. Yang jelas, semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.
Catatan Dirk van Lier di tahun 1659 maupun Wouter Schouten yang datang pada tahun 1661 menyebut, menara masih digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata/amunisi orang Banten. Kemudian baru antara lain tulisan Stavorinus yang menulis tentang Banten tahun 1769 menyebut menara sebagai tempat memanggil orang untuk bersembahyang.
Berita itu menunjukkan pula menara telah dibangun tidak berselang lama dengan pembangunan masjid. Dari hasil penelusuran Dr KC Crucq, yang pernah dimuat dalam karangannya berjudul Aanteekeningen Over de Manara te Banten (Beberapa Catatan tentang Menara di Banten) yang dipublikasikan dalam Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and Volkenkunde van Nederlandsch Indie, dinyatakan, menara dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan menikah.
Seperti dikatakan Pijper (1947:280), menara berbentuk segi delapan itu mengingatkan pada bentuk mercusuar, khususnya mercu Belanda. Saat ini ada bukti peninggalan mercusuar buatan Belanda di Anyer sebelah barat Serang dari abad ke-19, yakni bangunan mercusuar yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan Menara Masjid Agung Banten. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat.
Namun, dari sisi ragam hias, menara Masjid Agung Banten tampak terpengaruh seni ragam hias yang terdapat di Jawa, seperti hiasan kepala menara berbentuk dagoba atau hiasan segi tiga memanjang yang dikenal sebagai tumpal. Keduanya banyak dijumpai pada Candi Jago di Jawa Timur dan candi-candi lainnya. Bahkan, motif relung pada pintu menara seakan-akan merupakan penyederhanaan motif kala-makara dalam tradisi kebudayaan Indonesia pra-Islam seperti juga dekorasi mihrab Masjid Agung Kasepuhan di Cirebon.
Di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun). Bangunan yang dirancang arsitek Belanda Hendrik Lucasz Cardeel di abad ke-18 itu dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan yang berdenah empat persegi panjang, dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga buah ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.
***
SEBENARNYA masih banyak elemen unik lainnya yang secara singkat dapat disebutkan, seperti adanya umpak dari batu andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.
Selain itu, terdapat mimbar yang besar dan antik penuh hiasan dan warna. Tempat khotbah ini merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23 Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Berbeda dari mimbarnya yang menarik perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini sangat berbeda dari mihrab yang berkembang pada masjid di belahan dunia lain.
Adanya pendopo dan kolam untuk wudu di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa.
Yang aneh adalah tata letak makam. Secara tradisi, makam pada kompleks masjid tradisional di Jawa diletakkan di sisi barat, namun di masjid ini diletakkan di sisi utara. Tata letak ini berkembang di beberapa masjid bersejarah di wilayah Banten, seperti di Masjid Kasunyatan. Ini memberi tradisi baru pada masjid tradisional di Jawa, selain adanya elemen menara.
* Bambang Setia Budi, Peneliti pada Pusat Dokumentasi Masjid Nusantara "Masjid 2000" dan staf pengajar Jurusan Arsitektur ITB
Sering kali jumlah mereka mencapai puncaknya pada tanggal 14 Maulud karena pada dua hari sebelumnya, yakni tanggal 12 Maulud atau pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 25 Mei 2002 diadakan peringatan maulid (kelahiran) Nabi di Masjid Agung Banten.
Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, itu menjadi obyek wisata ziarah arsitektur yang sangat menarik karena gaya seni bangunan yang unik dan terdapat banyak elemen arsitektur menarik.
Sisi menarik pertama dari bangunan utama masjid, yang dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, itu adalah atapnya yang tumpuk lima. Menurut tradisi, rancangan bangunan utama masjid yang beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek Cina bernama Cek Ban Cut. Selain jumlah tumpukan, bentuk dan ekspresinya juga menampilkan keunikan yang tidak ditemui kesamaannya dengan masjid-masjid di sepanjang Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia.
Hanya lukisan Masjid Jepara sekitar abad ke-16 yang dibuat Wouter Schouten dalam Reistogt Naar en Door Oostindien dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1676 serta dicetak ulang tahun 1780 memperlihatkan masjid beratap tumpuk lima. Masjid yang lukisannya pernah dipublikasikan Francois Valentijn dalam Oude en nieuw Oost-Indien itu memperlihatkan idiom pagoda Cina, baik dari bentuk, ekspresi, hingga ukirannya.
Menurut Graaf dan Pigeaud, Masjid Agung Banten sejak awalnya beratap tumpuk lima, namun pada abad ke-17 pernah diubah menjadi tiga. Hal demikian dimungkinkan karena dua atap tumpuk teratas sebenarnya hanya atap tambahan yang ditopang tiang pusat yang bila dihilangkan tidak mengganggu konstruksi di bawahnya.
Yang paling menarik dari atap Masjid Agung Banten adalah justru pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom pagoda Cina. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan. Tak heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu sebetulnya dapat dibaca dalam dua penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau masjid beratap tumpuk tiga dengan ditambah dua mahkota di atasnya sebagai elemen estetik.
***
ELEMEN menarik lainnya adalah menara di sebelah timur yang besar dan monumental serta tergolong unik karena belum pernah terdapat bentuk menara seperti itu di Jawa, bahkan di seluruh Nusantara. Dikarenakan menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa.
Tradisi menyebutkan, menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini dulunya konon lebih berfungsi sebagai menara pandang/ pengamat ke lepas pantai karena bentuknya yang mirip mercusuar daripada sebagai tempat mengumandangkan azan. Yang jelas, semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.
Catatan Dirk van Lier di tahun 1659 maupun Wouter Schouten yang datang pada tahun 1661 menyebut, menara masih digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata/amunisi orang Banten. Kemudian baru antara lain tulisan Stavorinus yang menulis tentang Banten tahun 1769 menyebut menara sebagai tempat memanggil orang untuk bersembahyang.
Berita itu menunjukkan pula menara telah dibangun tidak berselang lama dengan pembangunan masjid. Dari hasil penelusuran Dr KC Crucq, yang pernah dimuat dalam karangannya berjudul Aanteekeningen Over de Manara te Banten (Beberapa Catatan tentang Menara di Banten) yang dipublikasikan dalam Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and Volkenkunde van Nederlandsch Indie, dinyatakan, menara dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan menikah.
Seperti dikatakan Pijper (1947:280), menara berbentuk segi delapan itu mengingatkan pada bentuk mercusuar, khususnya mercu Belanda. Saat ini ada bukti peninggalan mercusuar buatan Belanda di Anyer sebelah barat Serang dari abad ke-19, yakni bangunan mercusuar yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan Menara Masjid Agung Banten. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat.
Namun, dari sisi ragam hias, menara Masjid Agung Banten tampak terpengaruh seni ragam hias yang terdapat di Jawa, seperti hiasan kepala menara berbentuk dagoba atau hiasan segi tiga memanjang yang dikenal sebagai tumpal. Keduanya banyak dijumpai pada Candi Jago di Jawa Timur dan candi-candi lainnya. Bahkan, motif relung pada pintu menara seakan-akan merupakan penyederhanaan motif kala-makara dalam tradisi kebudayaan Indonesia pra-Islam seperti juga dekorasi mihrab Masjid Agung Kasepuhan di Cirebon.
Di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun). Bangunan yang dirancang arsitek Belanda Hendrik Lucasz Cardeel di abad ke-18 itu dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan yang berdenah empat persegi panjang, dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga buah ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.
***
SEBENARNYA masih banyak elemen unik lainnya yang secara singkat dapat disebutkan, seperti adanya umpak dari batu andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.
Selain itu, terdapat mimbar yang besar dan antik penuh hiasan dan warna. Tempat khotbah ini merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23 Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Berbeda dari mimbarnya yang menarik perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini sangat berbeda dari mihrab yang berkembang pada masjid di belahan dunia lain.
Adanya pendopo dan kolam untuk wudu di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa.
Yang aneh adalah tata letak makam. Secara tradisi, makam pada kompleks masjid tradisional di Jawa diletakkan di sisi barat, namun di masjid ini diletakkan di sisi utara. Tata letak ini berkembang di beberapa masjid bersejarah di wilayah Banten, seperti di Masjid Kasunyatan. Ini memberi tradisi baru pada masjid tradisional di Jawa, selain adanya elemen menara.
* Bambang Setia Budi, Peneliti pada Pusat Dokumentasi Masjid Nusantara "Masjid 2000" dan staf pengajar Jurusan Arsitektur ITB
Monday, May 14, 2007
PBSD Siapkan Tim Pemenangan Pilkada Kab. Tanggerang

Cisoka –DPC Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) Kabupaten Tangerang tengah mempersiapkan pembentukan Tim Koordinasi Pemenangan Pilkada (TKPP).
Ketua DPC PBSD Kabupaten Tangerang Dewa Sukma Kelana,SH mengatakan, tim tersebut beranggotakan sembilan orang yang terdiri dari unsur DPC, badan otonom, organisasi perempuan PBSD, dan PAC. “Tim saat ini tengah disiapkan dan segera terbentuk. Diperkirakan tim ini terbentuk empat atau enam bulan sebelum pilkada digelar,” kata Dewa, Senin (14/5). Kendati belum menyebut tokoh yang akan dijagokan dalam Pilkada yang rencananya digelar Fenruari 2008 mendatang, namun Dewa memastikan kalau tokoh tersebut yang bisa membawa perubahan di Kabupaten Tangerang. Dewa Optimistis sosok Ismet Iskandar akan membawa perubahan di Kabupaten Tangerang, sehingga partainya besar kemungkinan mengusung Ismet. “Kecenderungan begitu. Kami ingin perubahan. Ada kemungkinan kami akan berkoalisi dengan partai yang berkomitmen membawa perubahan,” kata ketua Front Nasional Pembela Penyelamat Negara Kesatuan Republik Indonesia (FNPPNKRI) Propinsi Banten ini. Sekadar mengingatkan, pada Pilkada Banten 2006 lalu, PBSD Propinsi sudah salah mengusung kali ini PBSD meyakini Ismet Iskandar lah yang masih cocok menjadi bupati Tangerang periode 2008-2013. Untuk pilkada kali ini, ada sinyal kalau PBSD akan berkoalisi dengan Partai-Partai Non Parlemen dan Partai Golkar yang dipastikan akan mengusung Ismet Iskandar. Sebelumnya, fungsionaris DPC PBSD Kabupaten Tangerang Djunaedi menyambut partai-partai yang akan jalen bareng dengan PBSD menghadapi pilkada mendatang. “Makin banyak partai yang ingin meneruskan keberhasilan, makin bagus. Dan, itu memang diperlukan agar Kabupaten Tangerang berubah,” kata Djunaedi. Djunaedi menegaskan, hingga saat ini keputusan Muscab PBSD Kabupaten Tangerang yang mengamanatkan PBSD untuk mengusung calon bupati, belum berubah. Sehingga, hampir bisa dipastikan kalau PBSD akan mengusung H. Ismet Iskandar. (by)
Ketua DPC PBSD Kabupaten Tangerang Dewa Sukma Kelana,SH mengatakan, tim tersebut beranggotakan sembilan orang yang terdiri dari unsur DPC, badan otonom, organisasi perempuan PBSD, dan PAC. “Tim saat ini tengah disiapkan dan segera terbentuk. Diperkirakan tim ini terbentuk empat atau enam bulan sebelum pilkada digelar,” kata Dewa, Senin (14/5). Kendati belum menyebut tokoh yang akan dijagokan dalam Pilkada yang rencananya digelar Fenruari 2008 mendatang, namun Dewa memastikan kalau tokoh tersebut yang bisa membawa perubahan di Kabupaten Tangerang. Dewa Optimistis sosok Ismet Iskandar akan membawa perubahan di Kabupaten Tangerang, sehingga partainya besar kemungkinan mengusung Ismet. “Kecenderungan begitu. Kami ingin perubahan. Ada kemungkinan kami akan berkoalisi dengan partai yang berkomitmen membawa perubahan,” kata ketua Front Nasional Pembela Penyelamat Negara Kesatuan Republik Indonesia (FNPPNKRI) Propinsi Banten ini. Sekadar mengingatkan, pada Pilkada Banten 2006 lalu, PBSD Propinsi sudah salah mengusung kali ini PBSD meyakini Ismet Iskandar lah yang masih cocok menjadi bupati Tangerang periode 2008-2013. Untuk pilkada kali ini, ada sinyal kalau PBSD akan berkoalisi dengan Partai-Partai Non Parlemen dan Partai Golkar yang dipastikan akan mengusung Ismet Iskandar. Sebelumnya, fungsionaris DPC PBSD Kabupaten Tangerang Djunaedi menyambut partai-partai yang akan jalen bareng dengan PBSD menghadapi pilkada mendatang. “Makin banyak partai yang ingin meneruskan keberhasilan, makin bagus. Dan, itu memang diperlukan agar Kabupaten Tangerang berubah,” kata Djunaedi. Djunaedi menegaskan, hingga saat ini keputusan Muscab PBSD Kabupaten Tangerang yang mengamanatkan PBSD untuk mengusung calon bupati, belum berubah. Sehingga, hampir bisa dipastikan kalau PBSD akan mengusung H. Ismet Iskandar. (by)
PBSD Siapkan Sistem Tabulasi Berbasis Teknologi Informasi Untuk Pilkada Bupati

Persiapan Pilkada Bupati Tanggerang
Menjelang pilkada Bupati Tanggerang , PBSD telah menyiapkan sarana untuk mengawal proses perhitungan suara. Salah satunya dengan menyiapkan Sistem Tabulasi menggunakan IT yang mirip dengan sistem tabulasi KPU yang digunakan dalam pemilu 2004 dan pilpres. Sistem tabulasi yang akan digunakan untuk seluruh Kabuapten Tanggerang ini dioperasikan oleh DPC PBSD Kab Tangerang sebagai penanggung jawab. Menurut Ketua DPC PBSD Kabupaten Tangerang, Dewa Sukma Kelana, SH penggunaaan teknologi informasi ini dimaksudkan untuk secara cepat bisa mengetahui hasil pilkada Bupati nanti. "Diharapkan pada pilkada nanti, seluruh hasil TPS dan PPS se Kabupaten Tanggerang dapat masuk ke sistem tabulasi kami, dan saat itu juga kita berharap bisa tahu hasil pastinya (pilkada Bupati)", ujar alumni Universitas Bung karno ini."Kita ingin mengawal suara kita dengan sebaik mungkin, dengan sistem ini kami bisa langsung dengan cepat tahu seandainya muncul kecurangan-kecurangan dilapangan, karena salah satu yg dilaporkan oleh para saksi adalah apakah ada indikasi kecurangan di tiap TPS atau wilayah", jelasnya lebih lanjut.Secara teknis penanggungjawab Saksi DPC PBSD Kab Tangerang, Mayzone Gafitri, ST menjelaskan, "Berbeda dengan sistem tabulasi KPU yang menggunakan koneksi internet untuk pengiriman hasil suara, kami menggunakan SMS (Short Message Service) sebagai media melaporkan hasil suara di masing-masing TPS/PPS/PPK. Untuk itu kami sudah menyiapkan server dengan sistem operasi linux dilengkapi dengan beberapa modem GSM serta software sistem tabulasi di kantor kami. Dan saat ini sistem tabulasi ini sedang memproses registrasi saksi yang juga dilakukan melalui SMS""Setiap saksi atau koordinator saksi nantinya langsung melaporkan hasil di TPS yang ada dibawah koordinasinya dengan mengirim SMS dengan format tertentu ke nomer HP yang terhubung dengan server tabulasi di kantor DPC, begitu sampai langsung diproses oleh server dan ditampilkan hasilnya." jelasnya. Terkait kemungkinan para saksi salah mengirim SMS, Firdaus menjelaskan bahwa Sistem Tabulasi akan secara otomatis menjawab SMS yang salah dan memberitahu dimana kesalah formatnya. Begitu juga jika SMSnya berhasil diproses sistem tabulasi yang dikerjakan oleh tim IT DPC PBSD Kab Tangerang ini akan memberikan SMS balasan.
Dari hasil sistem tabulasi ini, kita bisa tahu secara pasti dimana basis-basis suara PBSD dan nantinya sangat bermanfaat dalam menentukan kebijakan pemenangan pilkada 2008 mendatang." ujar Dewa.Dalam musyawarah daerah yang lalu, PBSD Kab Tangerang sudah memutuskan untuk mengusung H. Ismet Iskandar yang saat ini masih menjabat Bupati Tanggerang
PBSD Mulai Jaring Cabup Tanggerang

TANGERANG- Meski masih menyisakan satu tahun lagi, dalam upaya maksimal untuk meraih kursi bupati dan wakil bupati dalam Pilkada Kabupaten Tangerang ditunjukkan Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD)Kabupaten Tangerang, itu telah membentuk tim penjaringan calon. Tim yang jumlahnya mencapai 23 orang itu diberinama Tim Optimalisasi Pemenangan (TOP) telah dibentuk sejak sepekan yang lalu. “Sejak dibentuk, kami sudah mulai bekerja dengan langkah awal pembagian tugas untuk masing-masing anggota,” ujar salah seorang anggota TOP, Madani akhir pekan lalu kepada Mercusuar Post. TOP sendiri diketuai oleh Muhani yang juga BendaharaDPC PBSD Kabupaten Tangerang, kata Madani, akan bertugas melakukan penjaringan calon dan tugasnya akan berakhir setelah cabup dan cawabup secara resmi diusung partai.“Mengenai waktu tepatnya, kami masih menunggu SK (surat keputusan, red) dari DPD yang akan turun pada pecan ini,” tukas Madani.Madani mengatakan, keanggotaan TOP terdiri dari pegurus DPD Provinsi Banten yang berdomisili di Kabupaten Tangerang yakni, Dewa, SK, Djunaedi, Hendara Saleh. Serta perwakilan dari DPP PBSD yang berdomisili di Kabupaten Tanggerang. Dari Kabupaten Tangerang sendiri, selain Madani yang menjabat Ketua MPD PBSD Kabupaten Tangerang juga melibatkan unsur pimpinan Serikat Buruh/Serikat Pekerja Kabupaten Tangerang, Aang SH dan para Ormas Sayap PBSD Kabupaten Tangerang, Maulana, serta Ketua Pasukan Wijaya Kusuma Kabupaten Tangerang, Jajang. Untuk DPC PBSD Kabupaten Tangerang sendiri, pungurus harian masuk dalam keanggotaan TOP.
Soratet Dideklarasikan
Balaraja, Mercusuar Post-Belasan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendeklarasikan solidaritas rakyat Tanggerang untuk Ismet Iskandar(Soratet), Selasa (20/5), di salah satu rumah makan di Balaraja, Deklarasi tersebut dimotori oleh Dewan Pimpinan Cabang Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI (FNPPNKRI) Kab. Tanggerang yang selama ini sudah bergriliya untuk memenangkan kembali H. Ismet Iskandar 2008-2013 untuk memimpin Kabupaten Tanggerang.Dalam deklarasinya, Soratet berkomitmen menjaga Pilkada damai dan memenangkan H. Ismet Iskandar. Deklarasi ini juga dihadiri oleh Ketua FNPPNKRI Banten Dewa Sukma Kelana, SH. Djunaedi, Sekretaris FNPPNKRI Kab. Tanggerang sekaligus koordiantor Soratet, membenarkan pembentukan Soratet. Kata Djunaedi, semangat Soratet adalah untuk menjaga pelaksanaan Pilkada bersih dan fair. “Komitmen menjaga Pilkada yang bersih dan bermaslahat bagi rakyat adalah cita-cita utama Soratet,” katanya usai menghadiri deklarasi kepada Mercusuar Post.
Kata Djunaedi, Pilkada yang bersih dan fair merupakan salah satu prasyarat membangun Kabupaten Tanggerang ke depan lebih baik. Menurutnya, peralihan kekuasaan lewat Pilkada harus dilaksanakan dengan bersih. “Hindari cara-cara anarkis,” imbuhnya. Selain itu, sambung Djunaedi, Soratet juga bertekad akan memenangkan H. Ismet Iskandar . Soratet, kata Fitron, siap menyumbang suara signifikan untuk pasangan ini. “Soratet akan menerjunkan relawan-relawan untuk menjadi salah satu penyumbang suara,” tandasnya. Diyakini Djunaedi, dengan kehadiran Soratet dapat menambah kekuatan relawan bagi H.Ismet Iskandar yang sudah ada. “Kami yakin dapat bersaing dengan pasangan lain,” pungkasnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)