Monday, May 28, 2007

Presiden : Negara Islam Tidaklah Lemah

Kuala Lumpur, Malaysia: Kita mampu meningkatkan kesejahteraan di dalam pasar global serta masih memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut, antara lain, tanggung jawab social, resiprositas dan kebersamaan, yang merupakan nilai-nilai Islam dan juga nilai-nilai universal. Hal tersebut dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam special keynote address pada pembukaan World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-3, Senin (28/5), di Putra World Trade Center (PWTC) Kuala Lumpur, Malaysia.Walaupun saat ini merupakan era dimana teknologi berkembang dengan pesat, perdagangan global semakin kuat serta semakin banyak kesempatan bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Kita, ujar SBY, juga diancam dengan kemiskinan yang banyak terjadi di negara-negara yang kurang berkembang, yang pada akhirnya akan mengancam usaha mereka dalam rangka mencapai Millenium Development Goals. Ancaman lain yang dihadapi oleh semuanya adalah global warming serta pencarian sumber daya alam lainnya yang tidak memperhatikan keadaan lingkungan sehingga pada akhirnya merusak lingkungan sekitar.“Kita sebagai umat tidak bisa melarikan diri dari semua masalah-masalah tersebut. Kita hanya memiliki satu bumi. Kita harus menghadapi semua permasalahan tersebut dengan bijak untuk membuat segalanya menjadi lebih baik,” jelas Presiden kepada para tamu undangan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah, lanjut Presiden SBY, menyadari bahwa kita tidaklah lemah. “Kita terlihat lemah karena kita percaya apabila ada orang lain yang mengatakan bahwa diri kita lemah,” katanya. SBY kembali mengingatkan bahwa populasi rakyat di negara-negara muslim yang menjadi anggota dari Islamic Development Bank adalah sekitar 30 persen dari seluruh penduduk bumi. Dan yang lebih penting lagi, negara-negara muslim di dunia mennyuplai kurang lebih 70 persen dari kebutuhan energi dan 40 persen kebutuhan bahan-bahan mentah dunia.Oleh karena itu, seluruh negara-negara Muslim harus proaktif dan mengetahui apa yang diinginkan. “Kita harus menyerap lebih banyak pengetahuan dan teknologi dari negara-negara yang lebih maju apabila mereka menginginkan energi dan komoditas kita. Kita harus melakukan barter yang adil dam menguntungkan kedua pihak,” tutur Presiden. Dilanjutkan lagi olehnya bahwa interaksi ekonomi tersebut diharapkan akan menghasilkan pertumbuhan teknologi yang pesat, peningkatan sumber daya manusia serta orientasi positif dari masyarakat.Agar bisa merasakan manfaat dari interaksi ekonomi tersebut, ujar SBY, kita harus bisa mengubah persepsi negara-negara lain terhadap negara muslim. “Kita harus merubah pikiran mereka terhadap kita. Dari sesuatu yang negatif, menjadi sesuatu yang positif dan penuh dengan antusias,” Presiden menambahkan. SBY juga menekankan bahwa madrasah memegang peranan penting dalam peningkatan pengetahuan dan sumber daya manusia di negara-negara Islam. “Kita juga harus mendorong dan memberikan kesempatan untuk membuka jaringan dan melakukan kerjasama seluas-luasnya kepada para pengusaha, pengusaha wanita, serta pengajar. Banyak hal yang dapat dilakukan lebih baik oleh sektor swasta jika dibandingkan dengan pemerintah,” ujar SBY. SBY mengingatkan lagi mengenai dua isu yang akan mendominasi diskusi multilateral, yakni soal ketahanan energi serta global warming. “Dalam masalah tersebut, ummat Islam diharapkan untuk mengambil peran yang besar ikut serta mencari solusi yang tepat, dan tidak menjadi bagian dari masalah tersebut,” kata Presiden. SBY yakin bahwa dengan dibimbing oleh nilai-nilai Islam, umat Islam bisa memberikan nilai kemanusiaan pada globalisasi serta memperkuat solidaritas antar sesama. (mit)

Wednesday, May 23, 2007

FNPPNKRI Maulidan Bersama Warga Panongan











Ketua FNPPNKRI Kab. Tanggerang Dewa Sukma Kelana, SH dan ratusan para istri anggota FNPPNKRI kompak selenggarakan Maulidan Nabi Muhammad saw bersama tokoh masyarakat dan warga Kec. Panongan.

Puluhan Warga Hadang Truk Tanah dan Kontainer

Balaraja(Mercusuarpost) - Puluhan warga dipimpin tokoh-tokoh Tegal Murni jalan yang membelah kawasan industri Adi Balaraja, Senin (21/5) sekitar pukul 12.00, menyetop puluhan kendaraan container dan truk pengangkut tanah merah yang melintas di wilayah mereka. Aksi tersebut dilakuakan karena keberatan jika jalannya dilalui truk bertonase tinggi yang tidak bertanggung jawab. "Kami tidak mau jalan yang sudah rusak berbentuk kubangan bertambah rusak hingga truk tersebut lewat ditempat kami," kata salah seorang warga desa Tegal Murni, Kecamatan Balaraja. Aksi yang dilakukan warga dengan cara menghalangi truk yang lewat dengan blokade batu-batuan dan potongan pohon besarserta ditanami tanaman yang masih segar dan didalam kubangan ditanami eceng gondok terlihat bukan seperti jalan lagi.
Yang mereka minta sopir truk memutar kendaraannya balik arah dan meminta industri yang ada disekitarnya untuk perduli akan keluhan warga ini bukan malah membiarkan. Perwkilan warga pada Mercusuarpost mengatakan, aksi warga tersebut dilakukan karena pihak pengusaha tidak memiliki izin melintas. "Kalau jalan itu rusak siapa yang akan perbaiki?"katanya.
penghadangan tersebut cepat terhenti setelah ada kesepakatan yang difasilitasi oleh kepolisian antara pemilik proyek pengangkutan tanah dan warga.

Dewa Hadiri Deklarasi FNPPNKRI Balaraja

Setelah melakukan deklarasi di berbagai kecamatan di Kab. Tanggerang FNPPNKRI kini melakukan deklarasi untuk kecamatan Balaraja Tanggerang, deklarasi yang dihadiri oleh Dewa Sukma Kelana, SH selaku ketua dan Djunaedi, SE selaku sekretaris FNPPNKRI Tanggerang Banten menjadi acara puncak dari rangkaian deklarasi Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI (FNPPNKRI) Wadah Kesatuan Persatuan Persatuan Nasional Bangsa Gerakan Moral Bangsa, Pemberantasan KKN, Narkoba, dan Terorisme (Solusi Multi Dimensi) untuk kabupaten Tanggerang.
Deklarasi DPAC FNPPNKRI Kec. Balaraja berlangsung mulai pukul 13.00 Wib. Acara semua direncanakan mulai pukul 11.00 Wib, acara mengambil tempat sekretariat DPAC FNPPNKRI Balaraja bersebelahan dengan kediaman ketua FNPPNKRI Balaraja terpilih Maulana.
Ratusan kader FNPPNKRI dari berbagai wilayah di Kabupaten Tanggerang memenuhi tempat deklarasi.
Mereka mengenakan atribut kaos berwarna merah putih hitam, dengan lambang FNPPNKRI. hadir dalam deklarasi tersebut tokoh pendiri FNPPNKRI yang juga sekjend DPP FNPPNKRI Sastrajumena Raksanagara, SH yang didampingi sekretaris FNPPNKRI Propinsi Banten Tb. Achmad Bayu Isrofil.
Masa pendukung FNPPNKRI berjumlah sekitar 700 orang mereka datang dari berbagai kecamatan dikabupaten Tanggerang, dengan menggunakan bermacam kendaraan. Dari truk, bus, motor sampai mobil bak terbuka.
Maulana selaku ketua FNPPNKRI kec balaraja terpilih mengatakan, sangat senang karena deklarasi ini berjalan dengan lancar apalagi dihadiri para tokoh FNPPNKRI. saya berjanji dengan kepemimpinan saya dan kepengurusan yang didominasi orang muda, Tanggerang khususnya Balaraja akan terbebaskan dari Narkoba dan FNPPNKRI akan berada dalam barisan terdepan dalam memerangi Narkoba..

Koalisi Ormas dan LSM Gabung Ke Soratet Dukung H. Ismet Iskandar

Seluruh warga kabupaten Tanggerangwajib menyukseskan pesta demokrasi di Tanggerang yang kita cintai ini. Sukses pilkada sangat ditentukan oleh partisipasi politik setiap warga Tanggerang baik perorangan, institusi politik maupun organisasi kemasyarakatan (ormas), di Tanggerang.Partsipasi politik warga Tanggerang dalam pilkada nanti adalah memilih calon Bupati Tanggerang yang baru. Untuk itulah, hari ini sebuah organisasi yang bernamakan "Koalisi Soratet" (Koalisi Solideritas Rakyat Tanggerang Untuk Ismet) terbentuk dari berbagai ormas, keagamaan dan sosial politik untuk mendukung H. Ismet Iskandar sebagai Bupati Tangerang periode 2008-2013."Koalisi Soratet ini terbentuk atas kesamaan pemikiran dan kepedulian untuk membangun Tanggerang yang lebih baik. Organisasi ini bukan representatif dari organisasi FNPPNKRI(Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI). Karena FNPPNKRI bukan organisasi politik," kata Ketua Koalisi Soratet, Dewa Sukma Kelana, SH, yang juga menjabat sebagai ketua FNPPNKRI Tanggerang, saat acara deklarasi Koalisi Soratet yang dihadiri lebih dari 200 orang, dengan tema, Menggalang Ukhuwah Membangun Daerah, di sekretariat DPAC FNPPNKRI, Kec.Jambe Tanggerang. FNPPNKRI, kata Dewa, tidak memberikan dukungan terhadap satu calon. Namun, setiap individu anggota FNPPNKRI punya hak untuk mendukung siapapun," katanya.Menurut Dewa, dukungan ini dalam bentuk tanda tangan berjumlah 1.125 orang dan foto copy kartu anggota yang menyatakan dukungan kepada Ismet Iskandar dari seluruh kabupaten Tanggerang. "Alasan mendukung Ismet Iskandar, karena ia berpengalaman di bidangnya, tokoh masyarakat dan agama, pejabat yang berhasil atas amanah rakyat selama memimpin, pribadi yang sederhana dan bersahaja," ujarnya.Program yang akan dilakukan Koalisi Soratet, lanjut Dewa, yakni, pelayanan ambulans gratis untuk masyarakat, membersihkan seluruh masjid di kab. Tanggerang, Pengajian Keliling, tukar pendapat sambil belajar (tupat sambel) untuk siswa sekolah, anak soleh kreatif (ansor) dan kuliah demo masak (kuldesak) untuk ibu – ibu.Tidak hanya itu, Dewa menambahkan, Koalisi Soratet juga mensosialisasikan anti golput kepada warga Tanggerang. Karena golput bukan solusi terbaik. "Dengan demikian Koalisi Soratet sudah menggandeng perkumpulan, Ormas dan LSM yang ada di Tanggerang, diantaranya : Front Nasional Pembela Penyelamat NKRI (FNPPNKRI), Generasi Muda Pejuang Propinsi Banten (GMPPB), Kreasi Muda Tanggerang (KMT), Pemuda Kerakyatan, Lembaga Studi Pengkajian Informasi Buruh (LSPIB), Paguyuban Keluarga Warga(PAKUWA Banten) serta Ormas dan LSM lainnya yang ada di Kab. Tanggerang," pungkas Dewa.

Monday, May 21, 2007

Pemuda Ujung Tombak Bangsa

Hari kebangkitan nasional (HKN) pada dasarnya merupakan momentum untuk kita semua, khususnya pemuda untuk meneruskan perjuangan para pendahulu dalam konteks masa kini. Pemuda juga diharapkan bangkit dalam berbagai hal. Hal ini dikatakan, Sekretaris Generasi Muda Pejuang Propinsi Banten (GMPPB), Tb. Achmad Bayu Isrofil kepada Mercusuarpost, di Tigaraaksa,Tanggerang. "Ibu Kota Tanggerang ini merupakan pusat peradaban dunia. Kebangkitan nasional berawal dari Banten ini, yang merupakan awal penggerak elemen bangsa untuk melawan penjajah," katanya.Menurut pria asli Banten ini, saat ini penjajahan belum berakhir. Lihat saja, ekstradisi dengan negara tetangga Singapura. "Misalnya, kerjasama militer, pertahanan dan lain sebagainya. Apakah ada yang menjamin bahwa semua ini tidak akan mengobok - obok Ibu pertiwi?. Saya khawatir ada kepentingan negara lain dibalik semua ini. Jangan jadikan bangsa ini sebagai kuda troya (diperalat) bangsa asing. Dan, jangan mengulangi kebodohan yang sama," tegasnya.Terkait mengenai peran pemuda dalam lingkup lokal. Ia mengatakan, pemuda merupakan ujung tombak Bangsa untuk menjalin persatuan dan kesatuan. "Saya mengimbau kepada seluruh pemuda khususnya di Jakarta bahwa kita semua bersaudara," ujarnya.Ketika ditanya mengenai peran pemuda dalam pilkada nanti, lebih lanjut Bayu mengatakan, pemuda diharapkan dapat membantu mensosialisasikan pilkada dengan baik dan benar. "Kepada seluruh komponen masyarakat agar menggunakan nalar dan rasionya. Kabupaten Tanggerang ini multi etnis dan modernitas. Oleh karena itu, kita harus bersama - sama membangun Kabupaten ini ke arah yang lebih baik. Dan, mengimbau kepada para pemuda untuk lebih aktif dan dinamis dalam berbagai aspek," kata tokoh pemuda Banten ini."Pemuda jangan berdiam diri, yang nantinya akan mengakibatkan pembangunan kabupaten ini terabaikan. Maka, mulai saat ini baik pemerintah, pemuda dan seluruh lapisan masyarakat untuk berasatu membangun Kab. Tanggerang ini menjadi lebih baik," pungkasnya.

Sunday, May 20, 2007

Jejak Penerbit Pers di Banten 50 Tahun Silam

Dari "Utusan Banten" ke "Gelora Massa"

Tidak ada yang menyangka jika obrolan ngalor-ngidul
menjelang malam beberapa pemuda di sekitar perempatan
Pocis Serang satu saat ke depan akan melahirkan
penerbitan lokal dan merintis menjadi cikal-bakal PWI
cabang Banten untuk pertama kalinya. Beberapa pemuda
idealis ini selalu bertemu di perempatan Pocis untuk
membicarakan apa saja yang sedang "ngetrend" pada saat
itu, termasuk berdiskusi tentang film yang baru mereka
tonton di Gedung Sampoerna -sekarang Pelita Theatre.

Ketika idealisme mereka memuncak, pada tahun 1954
mereka sepakat untuk menerbitkan satu media yang
bersifat penerangan, pendidikan dan hiburan. Mereka
sepakat untuk mendirikan penerbit "Rangsang Debu '45"
serta menerbitkan "Utusan Banten" dengan format buku
kecil -sebesar buku tulis- yang terbit satu bulan
sekali dengan 30 halaman.

Utusan Banten beralamat redaksi di jalan Mayor Safe'i
(dahulu jalan Cilegon) nomor 34 di ruang muka keluarga
Bapak Mu'in yang sekarang digunakan sebagai pemangkas
rambut. Tercatat Sianfu dan Atja sebagai pendiri,
Chutbany sebagai pimpinan redaksi, AS Sumiarsa sebagai
redaksi dan sekretaris redaksi dipegang oleh Nani.

Peralatan sederhana seperti meja tulis, mesin tik dan
kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh Atja, sedangkan
dana penerbitan dan transportasi disumbang oleh Karso
Utomo Kohardjaja (Ko Eng Ke), seorang pedagang
tembakau yang juga ayah dari Sian Fu.

Agar mudah diingat, dalam penerbitan mereka selalu
menggunakan nama alias untuk artikel yang ditulisnya.
Penulis Utusan Banten dikenal dengan empat serangkai
ABCD. A sebagai Andre adalah Atja, B sebagai Basri
adalah Chutbany, C sebagai Chemmy adalah Sian Fu dan D
sebagai Deddy yang sebenarnya adalah AS Sumiarsa.

Utusan Banten yang naik cetak di percetakan Persatoean
Djakarta sempat berkembang selama enam bulan. Namun
nasibnya sungguh tragis karena pada kurun waktu itu
pula mereka hanya memiliki semangat dan idealisme saja
tanpa ditunjang dengan pengalaman marketing sama
sekali. Utusan Banten hanya sempat terbit empat kali
dalam kurun waktu Januari hingga April 1954. Hanya
mampu menerbitkan tapi tak memperhatikan sirkulasi
dan pemasaran produk. Akibatnya, modal usaha pemberian
almarhum Karso Utomo Kohardjaja ludes, sebelum Utusan
Banten mencapai kemapanan.

Dilebur
Kesulitan yang dialami pengurus Utusan Banten
terpantau oleh H.M. Rafiudin Gogo Sandjarirdja yang
ketika itu menjabat sebagai Ketua Perburuhan Banten.
Dengan bantuan tiga motor DKW dari beliau akhirnya
Utusan Banten dilebur kemudian muncul dengan nama
baru, Gelora Massa. Penerbitan ini mendapat subsidi
dari Departemen Penerangan atas referensi dari Gogo
Sandjadirdja.

Gelora Massa yang terbit setiap hari Jum'at satu
minggu sekali, relatif dapat terbit atau bertahan
lebih lama hingga tahun 1959, atau sekitar kurang
lebih lima tahun dengan oplah 6 ribu eksemplar setiap
terbit. Jumlah itu didistribusikan kesejumlah daerah
seperti Tanjung Priuk, Tanah Abang, Bogor dan
Tangerang sebanyak 2000 eksemplar, Lampung 500
eksemplar sedang sisanya diedarkan di daerah Serang,
Pandeglang dan Lebak. Formatnya juga berubah menjadi
seukuran tabloid biasa dengan delapan halaman
hitam-putih.

Gelora Massa saat itu beralamat redaksi di jalan Mayor
Safe'i nomor 58, Lontar, yang sekarang digunakan
sebagai bengkel las di sebelah Kantor Damri. Ketika
itu tanah tersebut masih milik Damri. Adalah (Alm)
Rustam Rismunandi, seorang staf kantor DAMRI dan
mengajar di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama)
yang juga anggota Dewan Pemerintahan Daerah Kabupaten
Serang menjadi Pemimpin Umum Gelora Massa. Rustam
Rismunandi memang aktif di bidang jurnalistik dan
manajemen, sehingga Gelora Massa sempat mencapai
sukses dan turut mengembangkan kegiatan pembangunan
daerah.

Bertindak sebagai pimpinan redaksi adalah H. Djaja
Sardjadirdja eks wartawan harian "Bintang Timur",
Jakarta yang juga sempat membuka bidang pembangunan di
bawah panji CV Ujung Kulon, Jakarta, dan menjabat
sebagai Ketua DPRD Tingkat II Kabupaten Serang.

Di bidang keredaksian diisi oleh Chutbany yang kini
bermukim di Bandung. Shien Fu yang sering dipanggil
Sian-Fu kini seorang pensiunan di Serang. AS Sumiarsa,
eks anggota kepolisian, kini tinggal di Ciwidey
Bandung, Tato S dari Cilegon, kini masih aktif di
bidang jurnalistik di Bandung, serta Andi Azis asal
Lampung, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Sedangkan untuk wartawannya tersebut Raden Mas Mulyadi
dan Kusnen dari Pandeglang yang juga sebagai wartawan
Merah Putih Surabaya.

Romantika
Pada tahun 50-an, percetakan di daerah Banten masih
merupakan barang langka. Kalaupun ada, satu-satunya
percetakan yang ada di kota Serang adalah Percetakan
"Serang", peninggalan Belanda yang pernah dikelola
oleh (Alm) Abdul Razak dan (Alm) Solihin. Karena masih
memakai sistem hand-press, maka tentu saja percetakan
tersebut tidak dapat mencetak format koran. Oleh
karena itulah Gelora Massa harus naik cetak di
Jakarta, yaitu pada percetakan harian "Suluh
Indonesia" di Jl Kran Kemayoran.

Percetakan itu juga yang mencetak mingguan "Berita
Indonesia", yang sangat populer dengan rubik 'Gambang
Kromong'-nya Firman Muntako. Sastrawan tenar WS Rendra
yang pada saat itu baru saja hijrah ke Jakarta, sering
tampak berkunjung ke kantor redaksi "Berita
Indonesia". Kadang ia menyerahkan sajak-sajaknya pada
Gelora Massa. Maka tak heran bila pada rubrik
"Kebudayaan" Gelora Massa sering ditemui sajak-sajak
si "Burung Merak" itu, di samping karya tulis dari
para muda-mudi Banten.

Beruntung Gelora Massa memiliki rekomendasi dari
Departemen Penerangan sehingga dengan mudah mendapat
"jatah" kertas koran yang ketika itu memang sangat
sulit didapat. Jika saja pengurus Gelora Massa ketika
itu tidak mempunyai idealisme tinggi dengan daerah
Banten dan hanya ingin mencari keuntungan, tentu
pengurus sudah dapat untung besar tanpa kerja keras.
Jatah kertas koran yang didapat selalu ditawar dengan
harga tinggi oleh calo-calo kertas yang akan digunakan
untuk pembuatan komik-komik atau terbitan lain yang
sejenis.

Untuk ke Jakarta saat itu hanya ada bus Ciang Tiam
yang kemudian berganti nama jadi Madju dan terakhir
menjadi Koepoe-Koepoe. Jarak Serang ke Jakarta lewat
Tangerang sejauh 100 KM harus ditempuh dalam waktu
empat hingga lima jam untuk sampai di terminal Bungur
Besar. Itu merupakan salah satu kendala yang tidak
ringan bagi usaha penerbitan pers daerah di masa itu.

Karena Gelora Massa terbit setiap hari Jum'at, maka
setiap hari Rabu, salah seorang staf redaksi berangkat
ke Jakarta mengantarkan naskah untuk setting. Tidak
jarang pula harus bermalam di percetakan, sambil
mencari tambahan berita nasional. Pukul tujuh pagi
esok harinya harus siap naik cetak dan selesai cetak
jam delapan malam. Untuk itu setiap malam Jumat sebuah
mobil sedan dinas DPRD Kabupaten Serang, secara khusus
datang menjemput staf dan mingguan Gelora Massa yang
selesai dicetak untuk diangkut ke Serang, agar dapat
dibaca masyarakat pada hari Jum'at pagi.

Cerita Misteri
Perjalanan malam melalui jalan raya Serang bukanlah
hal yang nyaman. Tiap kali setelah melewati jembatan
Cisadane di kota Tangerang, para kru Gelora Massa
harus bersiap-siap menghadapi hal-hal yang
sewaktu-waktu terjadi di luar keinginan pemakai jalan.
Sepanjang jalan tak ada lampu penerangan jalan umum
(PJU), karena memang dulu masih langka jaringan
listrik. Jalannya pun sempit dan berlubang-lubang.

Di tepi jalan berjajar pohon asam tua yang
besar-besar. Sedang jarak antara satu kampung dengan
kampung lainnya cukup jauh. Sungguh sangat seram dan
menjenuhkan. Kendati lelah, karena telah bekerja keras
selama dua hari dua malam, kru Gelora Massa tidak
berani tidur dalam perjalanan takut mengganggu
konsentrasi supir. Para kru masih harus begadang
menemani sang pengemudi agar tidak ikut mengantuk.

Untuk membunuh waktu, pikiran para kru Gelora Massa
menerawang entah kemana. Mereka tidak berani
berbincang-bincang, menghormati sang supir yang selalu
terlihat serius sekali mengendara mobilnya. Saat
itulah muncul ide cerita misteri yang dilatar
belakangi setting daerah sekitar jalan raya
Serang-Tangerang. Jadilah sebuah kisah "Si Manis
Damayanti". Cerita itu mengisahkan tentang mahluk
halus yang disebut Nyi Damayanti, yang sering muncul
di sepanjang jalan raya Serang-Tangerang, terutama
pada malam Jum'at.

Cerita fiktif ini mendapat perhatian luar biasa dari
para pembaca, bahkan penulis cerita kerap ditanya oleh
keluarga atau teman-teman serta para pembaca yang
penasaran, selalu tidak mau memberi keterangan yang
lebih rinci, paling-paling hanya menjawab dengan
senyuman penuh misteri, karena setelah diberi
keterangan, ternyata tokoh Nyi Damayanti memang ada
dan menjadi legenda di daerah itu. Dengan demikian
apakah Nyi Damayanti telah mengilhami kru Gelora Massa
secara langsung?

PWI Banten Pertama
Sebelum adanya Utusan Banten dan Gelora Massa, memang
pernah terbit beberapa media cetak di Banten ini,
kemudian ada yang berbahasa Sunda di Lebak bahkan ada
yang diterbitkan oleh Belanda. Namun jika yang menjadi
ukuran adalah media yang dibuat dan diterbitkan oleh
"Wong Banten" sendiri untuk pertama kalinya adalah
Utusan Banten dan Gelora Massa. Oleh sebab itu ketika
PWI Perwakilan Banten pertama kali berdiri, tidak lain
isi pengurusnya adalah dari Gelora Massa itu sendiri.

Berkantor di sebuah ruang depan Gedung Kodim Alun-alun
Serang (sekarang berubah menjadi mall), PWI Perwakilan
Banten dipimpin pertama kalinya oleh Rustam Rismunandi
dengan Sekretaris Djaja Sandjadirdja pada tahun 1956.
Sedang anggotanya terdiri dari Rustam Rismunandi, H.
Djaja Sandjadirdja, Chutbany, AS Sumiarsa, Sian Fu,
Raden Mas Mulyadi, dan Kusnen dari Pandeglang. Saat
itu kartu pers yang mereka pegang ditandatangani oleh
Ketua PWI Pusat, Karim DP. ***

Diceritakan secara singkat oleh Chemmy kepada M. Iwan.

Sianfu:
Kegalauan dan Idealisme Praktisi Pers

Saat ditemui di tempat mangkalnya, di sebuah gallery
di bilangan Pocis Serang, Sianfu atau yang dikenal
juga sebagai Theodorus Ko Kian Hoe, terlihat lebih
segar dibanding usianya yang sudah menapaki senja.
Selain menceritakan pengalaman-pengalam an indah ketika
masih aktif di dunia jurnalistik pada tahun 50-an, ia
juga mengungkapkan perasaannya dan harapan-harapan ke
depan bagi perkembangan jurnalistik khususnya di
Banten ini.

Pengalamannya dibidang jurnalistik dan ingatannya pada
peristiwa-peristiwa masa lalu yang pernah dilaluinya
masih melekat erat. Oleh sebab itu tidak heran jika Ko
Kian Hoe sering dijumpai berdiskusi dengan praktisi
jurnalistik muda di Banten ini. Dirinya kerap kali
menjadi nara sumber baik media lokal maupun nasional
yang ingin mengetahui keadaan Banten masa itu.

Sedikit kekhawatiran dirinya tentang jejak sejarah
pers di Banten diungkapkan pula pada kesempatan ini.
"Bahkan praktisi pers sekarangpun seperti tidak mau
tahu tentang sejarahnya. Banyak disinformasi yang
beredar tentang penerbitan masa lalu," ujar kakek
seorang cucu ini galau.

Sianfu menyanggah adanya sebuah buku yang menuliskan
bahwa Utusan Banten di cetak di Serang. "Memang saat
itu hanya ada satu percetakan di Serang, namun masih
menggunakan handpress sehingga tidak mungkin dapat
mencetak gambar atau foto. Walau dengan format
hitam-putih, Utusan Banten saat itu sudah menampilkan
foto-foto. Jadi hal ini juga harus diluruskan,"
tambahnya.

"Apalagi jika menyangkut PWI. Walau dahulu sempat
mendirikan PWI cabang Banten dan mempunyai kartu pers
yang dikeluarkan PWI Pusat, apakah data itu ada atau
setidaknya PWI Banten sekarang ini mengetahuinya, "
tutur pria kelahiran Banjarnegara ini. "Apa tanggapan
mereka tentang hal ini" ujarnya.

Banyak dokumen tulisan dan foto yang musnah terbakar
ketika tahun 1965 termasuk tercecernya bukti outentik
penerbitan Utusan Banten. "Selama ini saya berusaha
menemukan beberapa penerbitan Utusan Banten dan Gelora
Massa hingga ke Bandung, namun hasilnya nihil. Tapi
saya percaya bahwa terbitan itu masih ada yang
memiliki," ungkapnya.

Ternyata dalam beberapa waktu ini Sianfu sedang
menyiapkan sebuah "museum mini" penerbitan pers di
Banten. Saat ini terlihat sudah ada dua buah mesin
ketik kuno yang dipakai saat itu. Untuk sementara
benda tersebut disimpan di Gallery WongBanten di Jalan
P. Diponegoro 22 Serang, tempat anaknya tinggal.

"Saya juga sedang mencari kamera yang dahulu pernah
digunakan meliput Bung Karno berpidato di Alun-alun
Serang," ungkapnya bersemangat. Sianfu juga mohon
bantuan masyarakat yang memiliki penerbitan Utusan
Banten dan Gelora Massa untuk dapat meminjamkan atau
menyumbangkannya pada Musium Pers Mini ini.

Saat kran reformasi terbuka, penerbitan pers juga
mengalami peningkatan, terutama pada penerbitan lokal.
Yang jelas ada satu kesamaan yang dirasakan pada
penerbitan dahulu maupun saat ini terutama dari
kalangan pembacanya. Masyarakat maupun Pemerintah
Daerah kerap tidak peduli dengan isi berita yang
menyangkut sosial masyarakat. Tapi jika beritanya
sudah mengarah kepada personal, pasti akan ramai dan
seperti cerita bersambung dimuat setiap hari.

"Ini menunjukan pers masih belum dianggap sebagai
mitra pembangunan daerah. Beritanya ada tetapi
responnya sangat lamban," ujar praktisi pers yang juga
menggeluti fotographi ini. "Idealnya Pemda maupun
Pemprov menjadikan pers sebagai mitra pembangunan
daerah, sebaliknya pers juga harus bisa memberikan
solusi bagi berbagai persoalan," tambahnya.

Ia mengharapkan sekecil apapun yang dilakukannya saat
merintis penerbitan pers ketika itu setidaknya dapat
memberi motivasi pada praktisi pers saat ini. Walau
bukan penghargaan yang ia inginkan, setidaknya Sianfu
berbesar hati telah turut berpartisipasi bersama rekan
seperjuangannya untuk memberikan sedikit arti dalam
perjalanan panjang pers di Banten. "Sedikit sumbangsih
untuk Banten yang kami cintai ini karena kami bangga
menjadi anak Banten," ujarnya menutup pembicaraan. ***

> Salam,
> Saya ingin tahu sejarah pers di Banten seperti apa.
> Ada yang tahu? Ada
> yang tahu buku apa yang bisa saya baca? Terimakasih
> atas informasinya.
>
> Salam
> Ibnu AA
> Universitas Leiden, Belanda