Thursday, May 31, 2007

Walaupun Peluang Calon Independen Terbuka FNPPNKRI Tetap Dukung Pasangan Fauzi-Prijanto

Anggota&Simpatisan FNPPNKRI Agar Tetap Berjuang Dukung Fauzi-Prijanto

Mercusuarpost: Sekretaris Front Nasional Pembela Penyelamat Negara Kesatuan Republik Indonesia (FNPPNKRI) DKI Jakarta Dewa Sukma Kelana, SH, S.Ip meminta Anggota dan simpatisan FNPPNKRI Jakarta untuk tetap berjuang memenangkan pasangan Cagub dan Cawagub Jakarta Fauzi-Prijanto karena itu dibutuhkan dukungan dari kader dan simpatisan FNPPNKRI Jakarta untuk memenangkan Fauzi-Prijanto . Menurut Dewa, meskipun calon-calon Gubernur Independen akanbermunculan nantinya kader dan simpatisan FNPPNKRI tetap memilih pasangan Fauzi-Prijanto karena memiliki visi dan pemikiran ideal untuk membawa perubahan bagi Jakarta ke depan yang lebih baik. menurut Dewa para Cagub Independent yang sudah bermunculan dan tidak didukung oleh Parpol menurutnya belum representatif masyarakat Jakarta jauh panggang dari api, karena itu dibutuhkan munculnya pasangan calon yang tentu saja memiliki integritas dan loyalitas terhadap kemajuan bangsa dan cita-cita luhur yang benar-benar menginginkan perubahan keseluruhannya itu ada pada diri calon yang juga didukung dari FNPPNKRI mereka sudah teruji bukan hanya janji. hanya saat ini tergantung apakah Makhamah Konstitusi benar-benar mengabulkan keinginan calon independent. namun menurut dewa Undang-undang tentang Pemilu yang sudah ada tidak perlu dirubah dan itusudah cukup baik dengan demikian tidak dibutuhkan lagi munculnya calon dari Independen cukup saja dari Parpol karenaParpol sudah merupakan perwakilan ril dari masyarakat.
Demikian disampaikan Dewa usai ceramah pada acara peringatan hari kelahiran Pancasila diselenggarakan DPW FNPPNKRI Jakarta di Kalibata, Jakarta Selatan, Jum'at(1/6). Dukungan terhadap FAuzi-Prijanto, juga disampaikan oleh ribuan Anggota dan simpatisan dan tokoh FNPPNKRI se-DKI Jakarta antara lain Tb.Munir Sasmita, Hadi Jaya, H. Fauna Sukma Prayoga, Abdul Gani, H.Acmad Syahroni, Sastrajumena Raksanagara, Jonathan Purnawinata. "Para tokoh FNPPNKRI yang juga pendiri memiliki LSM dan Perusahaan dengan karyawan yang cukup banyak di Jakarta, khususnya yang berkumpul pada hari ini bertekad untuk mengantarkan Pasangan Fauzi-Prijanto menjadi Gubernur DKI Jakarta," tegas Dewa.
Sekretaris FNPPNKRI Jakarta itu mengajak para Anggota dan simpatisan FNPPNKRI berkampanye dengan cara santun dan mengedepankan akhlaqul karimah Kebangsaan tanpa memandang suku maupun Ras. "Saya tidak ingin ada Anggota dan simpatisan yang menggunakan cara-cara yang tidak simpatik maupun black campaign," himbau Dewa.Sementara itu Pengusaha Jakarta , Hadi Jaya mengaku siap merapatkan barisan Para Pengusaha dan Karyawan saya di Jakarta untuk mengampanyekan Pilkada damai. Menurut Dewa, dukungan terhadap FAuzi-Prijanto didasarkan pada keinginan untuk menjadikan Jakarta lebih baik. Ia juga menghimbau para tokoh agama Ormas dan LSM untuk memberikan pendidikan politik secara benar kepada ummat. Jangan menutup mata dengan kondisi Jakarta saat ini yang memprihatinkan yang disebabkan kurangnya dukungan dalam rangka membangun Jakarta, tegasnya. Sementara itu Wkl Sekretaris DPW FNPPNKRI Jakarta Djunaedi menyatakan bahwa keterlibatan FNPPNKRI dalam perubahan Jakarta di masa lalu dan di masa mendatang sangat besar artinya. Karena itu ia menyatakan sangat apresiatif terhadap para tokoh dan pendiri FNPPNKRI. "Sebagai Ormas pemersatu yang tidak membedakan suku, Ras, agama, parpol, dll. FNPPNKRI yang merupakan wadah Kasatuan Persatuan Nasional Bangsa,Gerakan Moral Nasional Bangsa, Pemberantasan KKN, Narkoba, dan Terorisme (Solusi Multi Dimensi) akan terus berada di tengah-tengah masyarakat bersama Ormas dan LSM serta tokoh masyarakat lainnya," tegas pria yang akrab disapa Bang Dewa itu.

Koalisi Yakin Raih 75% Suara

DEKLARASI, Fauzi Bowo dan Prijanto (tengah), kemarin resmi dideklarasikan sebagai pasangan cagub-cawagub pada Pilkada Jakarta. Deklarasi yang dilakukan di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, ini dihadiri ratusan warga dan parpol pendukung pasangan tersebut.
JAKARTA PUSAT (Mercusuarpost) – Partai politik (parpol) pendukung pasangan Fauzi Bowo-Prijanto optimistis bakal meraih suara 75% pada pilkada yang akan digelar 8 Agustus mendatang.
Pasalnya, puluhan parpol tersebut mempunyai basis massa yang riil.”Kami yakin pasangan Fauzi Bowo-Prijanto akan meraih 75% suara pada pilkada nanti,” ujar Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Agung Imam Sumanto seusai deklarasi pasangan Fauzi Bowo- Prijanto di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat,kemarin.
Agung mengaku, target perolehan suara tersebut bukan tanpa perhitungan.Pemilu 2004 lalu, misalnya,PDIP mampu meraup suara 14,26% atau 700.000 suara di DKI Jakarta.Artinya, jika perolehan suara tersebut digabung dengan parpol lain,otomatis jumlahnya lebih dari tiga juta suara. ”Hitung-hitungan itulah yang membuat kami optimistis dari 5 juta pemilih, 75% atau 3 juta suara akan kita raup pada pilkada mendatang,”jelasnya.
Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Ferrial Sofyan menyatakan hal yang sama.Terlebih, parpol yang tergabung dalam Koalisi Jakarta tetap solid mendukung kedua pasangan tersebut.”Saya yakin,parpol benar- benar mantap mendukung Fauzi-Prijanto,”tukas dia. Ketua DPW PPP DKI Jakarta Chudlary Syafii Hazami mengaku akan terus meningkatkan koordinasi dengan parpol pendukung lainnya untuk kemenangan Fauzi-Prijanto.
”Fauzi Bowo-Prijanto dengan parpol selalu kompak dan selalu melakukan koordinasi. Karena kalau tidak begitu, saya yakin semuanya akan berantakan,”singkatnya. Rencananya, pasangan tersebut mendaftarkan sebagai peserta pilkada ke KPUD pada 5 atau 6 Juni mendatang.Seusai deklarasi, Fauzi meminta dukungan warga Jakarta untuk memilih dirinya.
Dia pun berharap agar bersama- sama menyukseskan pilkada secara jujur, adil, dan damai. Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, juga berjanji akan meneruskan pembangunan Jakarta dan menjamin keberlangsungan Ibu Kota ini.”Saya menilai,masyarakat Jakarta sudah cerdas untuk memilih siapa pemimpinnya. Apalagi jika mereka mengenal slogan ‘serahkan Jakarta pada ahlinya’,”ujarFoke dihadapanribuan pendukungnya.
Sementara itu,Prijanto yakin memenangkan pilkada langsung yang baru pertama kali digelar ini.Dia berjanji akan terjun langsung ke masyarakat bersama parpol pendukung lainnya untuk menarik simpati.” Prioritas saya adalah masyarakat pinggiran Jakarta. Di sana,saya akan membuat jaringan yang kuat supaya mereka konsistenhanya memilihpasangan FauziBowo-Prijanto,”ungkapnya.
Seperti diketahui, Prijanto didukung parpol pendukung Foke menjadi cawagub dengan alasan untuk menghindari perpecahan. Padahal, sebelumnya, beberapa nama dijagokan sebagai pendamping Foke, seperti Abdul Wahab Mokodongan,Slamet Kirbiantoro, Djasri Marin dan Asril Tanjung.Namun,menjelang pembukaan pendaftaran cagub-cawagub, parpol pendukung Foke justru memutuskan Prijanto sebagai pendamping Foke.

Ribuan Umat Budha Menggelar Ritual Air Suci

Air dalam ritual ini diambil dari Umbul Jumprit, Temanggung yang disakralkan oleh Dewan Sangha, LKBI dan majelis Budha. Waisak adalah peringatan tiga peristiwa agung salah satunya adalah maha parinirvana Sang Budha Gautama.
Ribuan umat Budha menggelar ritual air berkah di Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (31/5). Ritual ini sebagai rangkaian awal perayaan Waisak pada Jumat nanti. Waisak adalah peringatan tiga peristiwa agung yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan maha parinirvana Sang Budha Gautama.
Air dalam ritual ini diambil dari Umbul Jumprit, Temanggung. Air sudah disakralkan oleh Dewan Sangha, Lembaga Keagamaan Budha Indonesia dan majelis-majelis Budha. Bagi umat Budha, air berkah bermakna kerendahan hati dan kesejukan, dua sifat yang mestinya dimiliki setiap umat manusia agar dapat hidup tentram di dunia.
Tradisi air berkah ini meneladani Siddharta Budha Gautama yang menganjurkan pengikutnya di Vesali untuk memercikkan air berkah sebagai cara menanggulangi wabah penyakit yang melanda kota tersebut. Setelah disucikan, air berkah akan dibawa ke Candi Borobudur sebagai salah satu elemen dalam puncak perayaan Waisak.

Penyelidikan Kasus Pasuruan Diserahkan ke Polisi

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyerahkan penyelidikan insiden penembakan warga Pasuruan, Jatim, kepada polisi. Wakil Ketua Komnas HAM, Zoemrotin K. Susilo, menemukan ada indikasi pelanggaran HAM dalam peristiwa ini.
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyerahkan penyelidikan insiden penembakan warga Desa Alas Telogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan, Jawa Timur, kepada pihak kepolisian. Meski begitu, Panglima tetap berjanji akan menindak tegas anak buahnya jika terbukti bersalah. Demikian dikatakan Djoko dalam jumpa pers, Kamis (31/5).
Djoko menambahkan, empat anggota Marinir yang menjadi korban bentrokan masih dirawat. Sedangkan 11 anggota regu yang berpatroli termasuk komandan regu dan komandan detasemen masih diperiksa Polisi Militer Angkatan Laut.
Bentrokan antara anggota TNI AL dan warga Pasuruan ini mengundang kecaman dari berbagai pihak. Anggota Komisi Pertahanan DPR, Joko Susilo, menilai, peluru tajam yang digunakan tentara memang tak bisa dihindari karena mereka memang dilatih untuk berperang. Namun demikian Joko tetap mengusulkan hukuman yang tegas terhadap TNI AL. "Sebaiknya Panglima TNI juga dicopot," kata Joko.
Anggota Komisi Hukum DPR, Nursyahbani Katjasungkana, juga meminta agar Panglima TNI dicopot. Dia juga tidak mempercayai keterangan Inspektur Jenderal TNI AL, Mayor Jenderal Marinir Safzen Noerdin, yang mengatakan prajuritnya menembak ke tanah.
Kecaman juga datang dari Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Zoemrotin K. Susilo. Dia menemukan ada indikasi pelanggaran HAM dalam peristiwa ini. Menurut Zoemrotin, semestinya yang bertugas mengamankan unjuk rasa warga adalah polisi bukan anggota TNI. "Pengendaliannya pun harus melalui prosedur standar tanpa mesti menembakkan peluru," kata Zoemrotin.
Sementara, Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, menyatakan, Presiden harus turun tangan untuk menyelesaikan kasus yang menewaskan empat warga Pasuruan ini. Zoemrotin dan Usman meminta kasus ini diselidiki oleh polisi meski tersangkanya adalah anggota TNI.

Australia Meminta Maaf ke Sutiyoso

Dubes Australia untuk Indonesia Bill Farmer meminta maaf atas insiden yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. PM John Howard menyatakan, insiden ini harus dijelaskan pemerintah Negara Bagian New South Wales.
Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer meminta maaf atas insiden yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Permintaan maaf itu disampaikan Bill Farmer dalam keterangan pers usai bertemu Bang Yos di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (31/5) pagi Sementara Sutiyoso menerima permintaan maaf Australia. Sebelumnya Bang Yos sempat kesal. Dia merekomendasikan hubungan sister city antara Jakarta dan Negara Bagian New South Wales sejak 1994 ditinjau ulang. Menurut dia, peristiwa yang dialaminya mencerminkan arogansi Australia terhadap Indonesia.
Selain Bang Yos, puluhan pemuda di Ibu Kota marah. Para pemuda yang tergabung dalam organisasi masyarakat ini berunjuk rasa depan Kantor Kedutaan Besar Australia menuntut pemerintah Negara Kanguru segera minta maaf. Demonstrasi berlangsung singkat karena pihak Kedubes Australia tak mau menemui pengunjuk rasa.
Di Sydney, Perdana Menteri John Howard menyatakan, insiden harus dijelaskan pemerintah Negara Bagian New South Wales. Namun dia mendukung penyelidikan kasus balibo yang menewaskan lima wartawan Australia di Timor Leste, 32 tahun silam. "Korban adalah warga Australia dan jaksa berhak menyelidiki,"

Prijanto Jadi Pendamping Fauzi Bowo

Teka-teka siapa pendamping calon gubernur (cagub) Fauzi Bowo, hari ini terjawab karena Mayjend Prijanto dipastikan menjadi calon wakil gubernur (cawagub) yang diusung partai pendukung Fauzi Bowo yang tergabung dalam Koalisi Bersama.
"Berdasarkan rapat semalam, Koalisi Bersama sepakat mengusung Mayjend Prijanto sebagai cawagub," kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pramono Anung di kantor DPD PDIP DKI Jakarta, Rabu (30/5).
Pramono mengatakan, Prijanto juga telah mendapat restu dari Mabes TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Djoko Santoso.
Adapun alasan dipilihnya Prijanto sebagai cawagub karena dia dapat mewakili seluruh kepentingan partai pendukung Fauzi Bowo. "Figur Prijanto mampu mempersatukan seluruh kepentingan parpol," katanya.
Dia optimistis bahwa duet Fauzi Bowo-Prijanto dapat meraih simpati warga ibu kota.
Pramono menambahkan, pasangan Fauzi Bowo-prijanto akan dideklarasikan secara resmi pada 1 Juni dan akan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi antara tanggal 6-7 Juni 2007.
"Deklarasi pasangan Fauzi Bowo-Prijanto saat hari lahirnya Pancasila 1 Juni diharapkan agar keduanya membawa semangat keberagaman yang merupakan ciri khas Jakarta yang terdiri dari berbagai etnis," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Prijanto membantah bahwa pencalonan dirinya adalah atas keinginan TNI. "Pencalonan saya karena keinginan Fauzi Bowo," jelasnya.
Pria kelahiran Ngawi, 26 Nei 1949 ini menuturkan, dirinya pernah bermitra dengan Fauzi Bowo yakni saya menjabat Kasdam Jaya tahun 2005 dan Danrem 051 Jakarta Timur tahun 1999.
Selain itu, di cabang olahraga Bowling, Prijanto terakhir menjabat sebagai Ketua Bowling DKI Jakarta. "Di Bowling, saya semakin mengenal Fauzi Bowo yang menjadi Ketua KONI DKI," tukasnya.

Sutiyoso Terima Permintaan Maaf Dubes Australia

Akhirnya Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengabulkan permintaan maaf Duta Besar (Dubes) Ausralia untuk Indonesia, Bill Palmer yang secara resmi datang ke Balai Kota, Kamis (31/5).
“Iya, saya memaafkannnya karena dia (Bill Palmer-red) mewakili rakyat Australia sebagai Dubes di Indonesia. Kita adalah bangsa yang berjiwa besar, kalau mereka sudah minta maaf maka jangan kita melakukan hal-hal yang akan merusak persahabatan ini. Hubungan kita perbaiki lagi dan mudah-mudahan ke depan tidak ada masalah lagi,” jelas Sutiyoso kepada wartawan, Kamis (31/5).
Eks Pangdam Jaya ini mengatakan, Bill Palmer akan mengusahakan pernyataan maaf secara resmi dari New South Wales pada hari ini dan akan memberikan surat tersebut kepada Gubernur Sutiyoso.
“Dan saya juga katakan pada beliau, dunia Internasional dan masyarakat Australia pada khususnya bahwa saya memang pernah bertugas di Timor Timur tiga kali. Tapi, saya dan pasukan yang saya pimpin pada tahun 1975 tidak pernah melewati Balibo, dan sudah dijelaskan pasukan siapa yang di Balibo saat itu,” jelasnya.
Sutiyoso juga menyampaikan ucapan berterima kasih kepada pemerintah pusat karena telah merespon positif kejadian ini, DPR RI, DPRD dan DPD DKI, serta masyarakat.
Mantan Wadan Kopassus ini menambahkan kejadian ini adalah sebuah kesalahan teknis sehingga jangan sampai setelah ada klarifikasi kedua belah pihak masih ada tuntutan yang tidak masuk akal.
“Mereka akan meminta maaf sesuai janjinya terutama New South Wales yang mengundang saya. Dan saya berjanji bila mereka benar-benar minta maaf maka saya juga akan melanjutkan sister city antara Jakarta dan New South Wales,” tegasnya.
“Saya dan Premier Morris Iemma memang sudah bertekad untuk menjembatani kerja sama sister city ini sebagai upaya untuk mencairkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut Dubes Australia, Bill Palmer berjanji untuk secepatnya mengurus permintaan maaf resmi dari New South Wales.
“Kita berharap kejadian ini bisa menjadi titik awal membaiknya hubungan antara Australia dan Indonesia,” katanya.
Berita Sebelumnya Sutiyoso Tuntut Pemerintah Australia Minta Maaf

Gubernur DKI Jakarta menuntut klarifikasi terkait tindakan pelecehan yang dilakukan dua polisi federal New South Wales dengan memasuki kamar hotel Shangri-La tempat dia menginap. Kedua polisi itu meminta Sutiyoso untuk hadir di Pengadilan sebagai saksi tewasnya wartawan Australia dalam kasus Balibo tahun 1975.
Sutiyoso juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah Australia atas tindakan kedua polisi tersebut. “Saya meminta Departemen Luar Negeri agar pemerintah Australia mengklarifikasi kejadian ini,” tegas Sutiyoso di Balai Kota, Rabu (30/5).
Bahkan eks Pangdam Jaya itu mengancam, tidak akan melanjutkan kerja sama kota kembar (sister city) Jakarta-Sidney jika tidak ada permintaan maaf. “Jika tidak ada permintaan maaf, kita akan kaji kembali kerja sama itu,” kata Sutiyoso.
“Saya sebagai gubernur selalu memberikan perlakuan yang sangat baik dan sangat melindungi Kedutaan Australia di Jakarta. Saya mengakomodir apa maunya demi keamanan mereka,” katanya lagi.
Seperti diketahui, kunjungan Sutiyoso ke Negara Bagian New South Wales itu atas undangan pemerintah setempat terkait kerja sama sister city.
Eks Pangdam Jaya itu menjelaskan, dia tiba di Sydney Minggu sekitar pukul 09.55 waktu setempat dan disambut oleh Mr Michael W Harkins MVO, pejabat protokol New South Wales dan Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo.
Pada pukul 13.00 Sutiyoso memenuhi undangan makan siang di kapal pesiar oleh staf premier NSW. Selanjutnya, pukul 14.00 dilanjutkan dengan kunjungan keliling didampingi dengan General Manager Darling Harbour Mr Bob Deacon dan dilanjutkan makan malam pukul 19.00.
Kemudian Senin (28/5), pukul 10.00 Sutiyoso mengunjungi Taronga Zoo diterima oleh Mark Williams. Jam 12.00 diterima oleh Gubernur New South Wales, Prof Marie Bashir.
Dilanjutkan pukul 15.00 meninjau pengolahan air limbah, pukul 17.00 diterima Premier NSW Mr Morris Lemma. Selanjutnya pukul 18.00 menghadiri Cocktail Reception dengan Menteri Pariwisata dan Perumahan New South Wales, Mr Matt Brown.
Kemudian pukul 10.00 Sutiyoso meninjau traffic manajement control (TMC) diterima Mr Phil Akers dan Mr Phil Gallagher. Pukul 12.30 menyampaikan sambutan pada acara business meeting yang diselenggarakan oleh Australian Indonesia Business Council. Selanjutnya jam 14.45 meninjau National Maritime Museum di Darling Harbour.
Sebetulnya pada pukul 18.00 telah dijadwalkan acara selanjutnya, namun karena masih ada waktu ia memutuskan kembali ke hotel. Namun, pukul 16.30 saat Sutiyoso sedang beristirahat tiba-tiba didatangi petugas Australian Federal Police (AFP) Sersan Thomas dan Detective Senior Constable Scrvens dari Coronial Investigation Team NSW Police. Dia menyampaikan surat pemanggilan untuk memberikan kesaksian tentang kasus Balibo, Timur Timor.
Kontan saja, kejadian ini membuat Sutiyoso marah besar. “Saya meminta kedua polisi itu keluar dari kamar hotel saya. Selanjutnya saya meminta protokoler dari New South Wales untuk menjelaskan kejadian ini tapi tidak bisa dihubungi,” jelasnya.
“Saya langsung menghubungi konsulat RI di Australia dan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda,” sambungnya. “Saya menjelaskan kejadian yang saya alami kepada Pak Hasan. Pak Hasan menyarankan agar saya tidak melanjutkan rangkaian acara yang tersisa dan segera pulang ke Jakarta,” terangnya.
Rencananya, hari ini Sutiyoso akan menghadap Hasan Wirajuda untuk menjelaskan secara detil kejadian yang dialami di Sydney. “Saya minta Deplu untuk mengklarifikasi masalah ini kepada pemerintah Australia,” ungkapnya.
Tidak Pernah Masuk Balibo
Sutiyoso yang saat itu berpangkat Kapten mengaku bersama pasukannya tidak pernah memasuki wilayah Balibo. “Saya tidak pernah memasuki wilayah itu. Pak Yunus Yosfiah pun (eks Menteri Penerangan-red) telah mengklarifikasi hal itu,” tuturnya. Tapi Sutiyoso menolak menyebut di mana posisi dia beserta pasukannya ketika itu.
Saat ditanya wartawan apakah kejadian itu ada unsur politis terkait pencalonannya sebagai calon presiden 2009, pria kelahiran Semarang 6 Desember 1944 itu tidak berkomentar. Namun, Ketua Umum PBSI ini menduga peristiwa yang dialami akibat rekayasa LSM yang anti Indonesia di Australia. “Saya menduga ini ulah LSM yang memberikan informasi keliru pada pemerintah setempat,” tukasnya.